Lahir dari rahim yang sama tidak membuat kami memiliki tabiat dan sifat yang sama. Kakak adalah si ekstrovert yg selalu sukses membangun relasi dengan siapapun. Sementara aku adalah si adik introvert yg lebih menggilai kesendirian dan selalu diselaputi keanehan.
Memutuskan untuk tinggal dan bekerja di lingkungan kakak membuatku tahu segala sesuatu tentangnya yg selama ini tidak kutahu ataupun kadang salah kuinterpretasikan.
Biasanya aku hanya menghadapinya pada musim musim tertentu, semisal musim lebaran ketika ia pulang kerumah. saat itu yang kutahu kakak hanyalah si nona ratu shopping yang bawel. Namun mengenalnya setiap hari dalam suasana kerja membuatku sadar bahwa aku memang salah interpretasi. Kakak adalah pekerja keras yang pintar, kepribadian kerjanya sekarang mungkin adalah hasil akumulasi tempaan waktu dan situasi sebelumnya. Buah yg ia petik sekarang bukan semata dari pohon ajaib yg tiba tiba tumbuh dibelakang rumah dalam semalam tapi hasil menanam bibit, hingga tumbuh bertunas dan menghasilkan buah.
Berada dalam lingkungan kerja yang sama, membuatku sadar kami berada dalam kasta yang berbeda. Hubungan adik kakak tiba saja lindap. Ia berubah menjadi orang lain yang tak pernah bisa kujengkali.
Tapi sebenarnya bukan itu yg kutakutkan. Aku hanya takut orang orang membuat komparasi terhadap kami. Dunia dan realitas yang kompetitif ini menjadikan orang orang peka dan pintar membandingkan. Orang- orang hanya akan terus menilai. Padahal aku tetap saja si adik yg introvert. Dan kakak tetap saja menjadi si supel ekstrovert.
Edisi curhat di ulang tahun kakak
Happy birthday, Allah Bless You as Always
Iyat
Kamis, 22 Oktober 2015
Selasa, 20 Oktober 2015
Rembulan Jingga Sesore ini
Semua tetap asing, jiwaku tak mampu melebur
Sepanjang jalan setapak kecil yg penuh liku dan selalu dibalut kabut asap,
Aku merenungi tahap demi tahap perjalanan
Rembulan jingga itu tetap ada, di langit asing yang masih sama
Namun ia tak pernah terasa asing
Menemani dan menjadi teman imajiner setia
Wahai rembulan jingga, langit belum gulita
Tapi mengapa biasmu begitu kentara
Adakah kau mampu memindai hatiku
Yang kadang hanya mampu memendam
Adakah kau mampu menerjemahkan keluhku yang tak mampu bersuara
Rembulan jingga
Mengapa kau hadir sesore ini
Dalam sapuan sepanjang setapak kecilku
Iyatt
About inferior person
Di oktober -yang anehnya- masih kemarau
Sepanjang jalan setapak kecil yg penuh liku dan selalu dibalut kabut asap,
Aku merenungi tahap demi tahap perjalanan
Rembulan jingga itu tetap ada, di langit asing yang masih sama
Namun ia tak pernah terasa asing
Menemani dan menjadi teman imajiner setia
Wahai rembulan jingga, langit belum gulita
Tapi mengapa biasmu begitu kentara
Adakah kau mampu memindai hatiku
Yang kadang hanya mampu memendam
Adakah kau mampu menerjemahkan keluhku yang tak mampu bersuara
Rembulan jingga
Mengapa kau hadir sesore ini
Dalam sapuan sepanjang setapak kecilku
Iyatt
About inferior person
Di oktober -yang anehnya- masih kemarau
Jumat, 18 September 2015
Silent
Tuhan pasti punya hitungan matematis sendiri atas kau, aku, dan hubungan searah ini. Aku yang terus mencintaimu setengah mati sekaligus mengagumimu tanpa pernah membelot, dan kau yang terus tak pernah menyadarinya.
Sebelas tahun bukan waktu sebentar, namun juga bukan waktu yang panjang. Tidak ada skala waktu yang tepat untuk mengukur seberapa lama seseorang terpaku pada satu cinta sepanjang hidupnya. Selama itulah aku berada dalam titik edar tempat kau berada, tapi aku tak ubah roh kasat mata yang tak tertangkap mata telanjangmu.
Tak terhitung bosannya sitha, sahabat terbaikku mengingatkan untuk menyudahi cinta absurdku ini. Shita pulalah saksi nyata sebelas tahun itu. Sejak kita SMP sampai bangku perguruan tinggi.
Jika memang ada orang selain sitha yang mengetahui cinta absurd ini, mungkin mereka sudah menggangapku tak waras dan menganjurkanku segera konsultasi ke psikiater. Meskipun aku juga tidak yakin psikiater mampu menyelesaikan masalah ini.
Cinta padamu selama sebelas tahun adalah rahasia terbungkus keheningan yang rapi. Hanya kepada sitha aku membukanya. Terlalu jauh bagiku untuk berpaling dan mencoba lupa, kau sudah seperti gravitasi yang harus membuatku selalu lekat.
Aku ingat empat tahun lalu, aku di opname selama seminggu pasca ujian SNMPTN karena kelelahan belajar. Apakah aku perlu jelaskan kenapa? Ya, aku harus lulus di UI demi mengejar pusat gravitasiku. Gravitasi yang di paksakan. Kau.
Apakah kau perlu tahu juga kenapa kita bisa bersekolah di SMA yang sama dan sempat dua kali sekelas? Ya, karena alasan yang selalu sama, gravitasiku. Kau. Tidak mudah untuk lulus saringan masuk SMA favorit apalagi kelas unggulan. Dan aku mampu.
Cinta yang membangkitkan energi positif itulah yang selalu kujadikan sumpalan mulut sitha yg terus cerewet memaksaku menyerah.
Sangat sulit menyamai langkahmu. Kau terlahir dengan kecerdasan alamiah. Sementara butuh usaha ekstra bagiku untuk menapaki jalan yang sama denganmu. Apakah menurutmu aku sudah pantas?
Sebulan yang lalu, kita diwisuda bersama. Jangan tanya lagi kenapa bisa bersama. Kau dengan toga masih segagah lelaki kecil yg dulu mengenakan seragam putih abu abu ataupun putih biru.
Meskipun kau bermetamorfosa menjadi pemuda dewasa nan tampan, perasan ini tetap ada. Mengarat. Belasan tahun lamanya.
Tahukah kau bagaimana bebalnya cinta? Aku tahu sejak dulu kau hanya menganggapku sebagai Teman SMP, SMA, bahkan teman kampus sefakultas yang kadang kau temui tak sengaja di kantin atau di perpustakaan. Jika bertemu tak sengaja, kau hanya melontarkan sapaan paling universal sedunia dan aku membalas dengan jawaban basa basi paling universal sedunia. Dan perasaanku masih tetap bebal.
Sebelas tahun ini kau telah puluhan kali gonta ganti pacar, sementara aku tak pernah sekalipun menjalin hubungan pacaran dengan siapapun dan masih mencintaimu dalam keheningan.
Sebulan pasca wisuda kau diterima bekerja di sebuah BUmn. Sementara aku salah satu pelamar yang tak diterima.
Periode berikutnya aku kembali mencoba peruntungan gravitasi, dan aku kembali gagal. Lima kali aku mencoba, dan aku tetap gagal. Mungkin begitulah hitungan matematis Tuhan yang diluar jangkauanku meski sekuat apapun aku mencoba.
Cerita kau dan aku dan Cinta searah ini hanya milikku seorang dan kau yang tak pernah tahu.
Iyatt,
Di september kemarau
Sebelas tahun bukan waktu sebentar, namun juga bukan waktu yang panjang. Tidak ada skala waktu yang tepat untuk mengukur seberapa lama seseorang terpaku pada satu cinta sepanjang hidupnya. Selama itulah aku berada dalam titik edar tempat kau berada, tapi aku tak ubah roh kasat mata yang tak tertangkap mata telanjangmu.
Tak terhitung bosannya sitha, sahabat terbaikku mengingatkan untuk menyudahi cinta absurdku ini. Shita pulalah saksi nyata sebelas tahun itu. Sejak kita SMP sampai bangku perguruan tinggi.
Jika memang ada orang selain sitha yang mengetahui cinta absurd ini, mungkin mereka sudah menggangapku tak waras dan menganjurkanku segera konsultasi ke psikiater. Meskipun aku juga tidak yakin psikiater mampu menyelesaikan masalah ini.
Cinta padamu selama sebelas tahun adalah rahasia terbungkus keheningan yang rapi. Hanya kepada sitha aku membukanya. Terlalu jauh bagiku untuk berpaling dan mencoba lupa, kau sudah seperti gravitasi yang harus membuatku selalu lekat.
Aku ingat empat tahun lalu, aku di opname selama seminggu pasca ujian SNMPTN karena kelelahan belajar. Apakah aku perlu jelaskan kenapa? Ya, aku harus lulus di UI demi mengejar pusat gravitasiku. Gravitasi yang di paksakan. Kau.
Apakah kau perlu tahu juga kenapa kita bisa bersekolah di SMA yang sama dan sempat dua kali sekelas? Ya, karena alasan yang selalu sama, gravitasiku. Kau. Tidak mudah untuk lulus saringan masuk SMA favorit apalagi kelas unggulan. Dan aku mampu.
Cinta yang membangkitkan energi positif itulah yang selalu kujadikan sumpalan mulut sitha yg terus cerewet memaksaku menyerah.
Sangat sulit menyamai langkahmu. Kau terlahir dengan kecerdasan alamiah. Sementara butuh usaha ekstra bagiku untuk menapaki jalan yang sama denganmu. Apakah menurutmu aku sudah pantas?
Sebulan yang lalu, kita diwisuda bersama. Jangan tanya lagi kenapa bisa bersama. Kau dengan toga masih segagah lelaki kecil yg dulu mengenakan seragam putih abu abu ataupun putih biru.
Meskipun kau bermetamorfosa menjadi pemuda dewasa nan tampan, perasan ini tetap ada. Mengarat. Belasan tahun lamanya.
Tahukah kau bagaimana bebalnya cinta? Aku tahu sejak dulu kau hanya menganggapku sebagai Teman SMP, SMA, bahkan teman kampus sefakultas yang kadang kau temui tak sengaja di kantin atau di perpustakaan. Jika bertemu tak sengaja, kau hanya melontarkan sapaan paling universal sedunia dan aku membalas dengan jawaban basa basi paling universal sedunia. Dan perasaanku masih tetap bebal.
Sebelas tahun ini kau telah puluhan kali gonta ganti pacar, sementara aku tak pernah sekalipun menjalin hubungan pacaran dengan siapapun dan masih mencintaimu dalam keheningan.
Sebulan pasca wisuda kau diterima bekerja di sebuah BUmn. Sementara aku salah satu pelamar yang tak diterima.
Periode berikutnya aku kembali mencoba peruntungan gravitasi, dan aku kembali gagal. Lima kali aku mencoba, dan aku tetap gagal. Mungkin begitulah hitungan matematis Tuhan yang diluar jangkauanku meski sekuat apapun aku mencoba.
Cerita kau dan aku dan Cinta searah ini hanya milikku seorang dan kau yang tak pernah tahu.
Iyatt,
Di september kemarau
A Whole New World
Apa yg harus kuceritakan soal dunia baru ini, A whole new world 'ku dibuka dengan kabut asap dan musim yang kering. Bahkan rumput-rumput liar yg biasa bertahan dalam segala musim pun mati menguning.
A whole new world 'ku adalah dunia yang belum pernah kujalani sebelumnya dan dipenuhi semua hal yang tak pernah kupelajari semasa kuliah. Di dunia baru ini, semua teori Karl Mark mungkin tetap teori, ukuran sosial di lingkungan ini tidak bisa membuatnya eksis. Yang ku jalani hampir sepanjang hari adalah praktek lapangan pelajaran akuntansi waktu sma dulu. Dan itu semua tak pernah sesederhana yang kubayangkan.
Di dunia baru ini harapan tidak muluk pun harus kubiarkan kandas. Kumasuki dunia penuh klasifikasi, sistem kasta selalu ada hanya saja bermetamorfosa menjadi bentuk lain.Spesialisasi kerja pun sungguh tak pernah terlihat sederhana. Namun di dunia ini, juga di dunia manapun, bukankah keluhan tak pernah boleh dilontarkan??
Aku hanya berjalan, meniti dunia kerja yg bisa kuramalkan sebulan, setahun atau sepuluh tahun mendatang akan tetap konstan seperti ini. Lupakan soal hubungan mutual dan sejenisnya. Semua orang membangun hubungan dan interaksi hanya dengan membawa sepaket basa-basi standart.
Untuk sementara aku harus mengucapkan
Selamat tinggal pada negeri dongeng ku,
Peri-peri kata yang selalu menemani ruang immateril dan alam serba literasi.
Iyatt
Di september yang kemarau lahir dan batin
A whole new world 'ku adalah dunia yang belum pernah kujalani sebelumnya dan dipenuhi semua hal yang tak pernah kupelajari semasa kuliah. Di dunia baru ini, semua teori Karl Mark mungkin tetap teori, ukuran sosial di lingkungan ini tidak bisa membuatnya eksis. Yang ku jalani hampir sepanjang hari adalah praktek lapangan pelajaran akuntansi waktu sma dulu. Dan itu semua tak pernah sesederhana yang kubayangkan.
Di dunia baru ini harapan tidak muluk pun harus kubiarkan kandas. Kumasuki dunia penuh klasifikasi, sistem kasta selalu ada hanya saja bermetamorfosa menjadi bentuk lain.Spesialisasi kerja pun sungguh tak pernah terlihat sederhana. Namun di dunia ini, juga di dunia manapun, bukankah keluhan tak pernah boleh dilontarkan??
Aku hanya berjalan, meniti dunia kerja yg bisa kuramalkan sebulan, setahun atau sepuluh tahun mendatang akan tetap konstan seperti ini. Lupakan soal hubungan mutual dan sejenisnya. Semua orang membangun hubungan dan interaksi hanya dengan membawa sepaket basa-basi standart.
Untuk sementara aku harus mengucapkan
Selamat tinggal pada negeri dongeng ku,
Peri-peri kata yang selalu menemani ruang immateril dan alam serba literasi.
Iyatt
Di september yang kemarau lahir dan batin
Senin, 01 Juni 2015
A Little Story From Tahura, Berastagi (Diksar Lensa Alam Angk. III, 29-31 mei 2015)
“Dalam lambung
hutan, tak jarang status manusia menciut jadi kutu yang tersesat dalam liukan
bulu biri-biri. Tidak hanya predator seperti singa yang harus diwaspadai,
tetapi juga rimba mikroba yang tak kelihatan.” –Partikel-
Potongan
kalimat tersebut terus terngiang dibenak saya dalam kegiatan Diksar Lensa Alam
beberapa hari yang lalu. Menyusuri jalur kecil dalam belantara salah satu hutan
Sumatera sembari menghindari semak belukar seorang diri demi menjemput
yantchan, -SiPatnerInCrime, juga salah
satu panitia Diksar- membuat saya menyadari satu dan lain hal. Bahwa
manusia telah jauh berevolusi meninggalkan alam, membentengi diri dalam tembok
semen dan tempat hangat yang nyaman. Bahwa manusia senantiasa bergantung pada
teknologi modern dan melebur dalam peradaban tinggi, sehingga kadang lupa diri
dan bertingkah angkuh. Hutan, beserta isinya menyadarkan kita (terutama saya), Mahakarya
Sang Ilahi jauh lebih berkelas dan digdaya bahkan ketimbang teknologi canggih
manusia yang senantiasa mereka perbaharui.
Awalnya
saya tidak pernah berekspektasi besar akan perkembangan komunitas Lensa Alam ini.
Bagi saya, bertemu mereka (pasukan lensa alam angk. I dan II) serta
berpetualang dan menjelajah alam bersama sembari bercanda sudah begitu cukup
menyenangkan. Jadi, perekrutan anggota baru serta kegiatan Diksar kemarin
merupakan pencapaian luar biasa bagi saya, teman-teman anggota yang lain dan
komunitas ini. Disamping itu, saya juga belajar bahwa menyelenggarakan sebuah event yang tergolong sederhana sekalipun
tidak segampang yang dipikirkan. Banyak
hal sulit dan merepotkan yang saya dan panitia lainnya hadapi. Saya dan ketua
Juple bolak-balik bertemu membahas pengelolaan anggaran, penyusunan acara,
penentuan tempat, dan brieffing persiapan serta hal lain-lain. Begitu juga dengan
teman-teman panitia lainnya. Menjadi panitia kegiatan ini membuat kami harus
rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan materi demi kesuksesan event istimewa ini. Sehingga,terselesaikannya
acara kemarin dengan cukup sukses mampu melunasi lelah kami sedari awal.
Pertemuan
pertama saya dengan para peserta Diksar adalah saat brieffing seminggu
menjelang keberangkatan. Meski belum banyak dan masih muda-muda, para peserta Diksar
memberi harapan baru bagi komunitas kecil ini untuk terus berkembang dan tetap
menjaga eksistensi. Karenanya, kedepannya Lensa Alam tidak sekedar sarana untuk
‘camping-camping cantik’ tapi juga sebagai sarana untuk mengenalkan pengetahuan
alam dan kegiatan outdoor lainnya secara langsung dan praktis pada
generasi-generasi muda yang bersemangat seperti mereka-mereka ini.
Well
People, saya akan bercerita sedikit perihal kegiatan Diksar Lensa Alam angkatan
III yang berlangsung 29-31 Mei di Tahura
berastagi kemarin. Kegiatan ini berjalan sesuai rencana meski tidak seratus persen.
Masih banyak kekurangan di sana-sini, karena beberapa kendala teknis, salah
satunya penggantian lokasi kegiatan beberapa hari menjelang hari H.
Hal
lainnya yang unpredictable tentu saja
kondisi cuaca yang tak menentu. Belum lagi Diksar resmi dibuka, para peserta
sudah dihadiahi hujan yang mengguyur deras sepanjang perjalanan dari Medan
menuju Berastagi. Sebagai penumpang
tarum, tentu saja, badan serta barang bawaan tak luput dari guyuran hujan. Tapi dari apa yang saya lihat, para peserta,
tampak ceria-ceria aja meski mungkin sudah dijamin masuk angin. Hujan baru
menunjukkan tanda-tanda reda menjelang malam. Sehingga kami, para panitia tetap
memutuskan melanjutkan acara. Sekitar pukul sembilan malam, acara pembukaan Diksar
resmi dibuka. Kemudian dilanjutkan dengan sesi perkenalan komunitas dan anggota
yang hadir serta perkenalan dari para peserta.
Meski
tampak lelah dan kedinginan, para peserta tetap semangat memperkenalkan diri.
Peserta angkatan III ini kebanyakan adalah perempuan. Setidaknya ini bisa jadi
bukti bahwa kegiatan jelajah alam nggak hanya dominasi kaum laki-laki. Semakin
banyak perempuan yang punya passion
pada kegiatan outdoor. Para perempuan-perempuan muda ini buktinya,
Malam
harinya, ketika semua peserta Diksar sudah dipastikan masuk tenda untuk
beristirahat. Dimulailah sesi bongkar-bongkar tas nyolongin snack bawaan
peserta (kalo kegiatan cenderung Kriminal gini, pasti perempuan yang
ditugaskan. Saya dan Anum lah jadi tumbalnya). Acara panitia selanjutnya
setelah nyolongin snack adalah rapat-rapat panjang dini hari untuk materi
tracking keesokan harinya (lagi-lagi saya dan Anum kebagian tugas masak nugget
hasil menjarah, dan mereka tinggal makan).
Hari
kedua Diksar dimulai dengan ber’SKJ’ ria setelah subuh dilanjutkan dengan
kegiatan masak dan sarapan oleh peserta. Selagi peserta sarapan dan beres-beres,
Para tim pendahulu berangkat menuju lokasi tracking dan pos masing-masing.
Jalur tracking yang akan dilewati peserta dibagi menjadi tiga pos. Pos terakhir
berada di air terjun barus. Usai sarapan dan bersiap-siap, peserta dibariskan
kemudian peserta tim pertama diberangkatkan lebih dulu. Tim selanjutnya
berangkat apabila, tim pertama telah meninggalkan pos pertama. Di masing-masing
pos semua peserta dibekali materi-materi. Selain jalur tracking yang semakin
lama semakin sulit dan licin, godaan-godaan pacat penghisap darah,
senior-senior yang seketika berkelakuan seperti singa lapar pun menjadi
tantangan tersendiri bagi masing-masing peserta Diksar. Namun sejauh pengamatan
saya, mereka masih oke-oke aja baik mental maupun fisik.
Pulang
tracking air terjun, para peserta diberikan waktu untuk bersih-bersih, mandi,
sholat dan beristirahat. Sementara itu, saya, Yantchan, Anum dan Syadi –kami, yang tadinya jaga wibawa sok kuat
mendampingi peserta (padahal cuma modal lontong)-, selesai tracking
langsung ngacir makan ke warung. Sampe-sampe syadi sesumbar kalo dia bisa
ngabisin enam telor dadar sekaligus, padahal cuma sanggup beli satu. Pulang
makan barulah kami, bersih-bersih dan memulai rapat-rapat panjang dan
briefing-brieffing membosankan ala panitia itu sampe beranjak malam.
Lewat
tengah malam, para peserta kembali dibangunkan. Dan dimulailah adegan klasik
inisiasi anggota baru organisasi manapun di muka bumi ini dari jaman kejaman.
Tidak lain, tidak bukan, tidak salah lagi, Jerit Malam. Saya, Yanti dan Andi
yang berimage lembut (entah lemot?) nggak bisa marah, super nggak tegaan,
diutus dan ditugaskan di pos pertama yang berupa pemberian motivasi agar para
peserta yang sudah lelah kembali bersemangat di acara puncak ini.
Awalnya,
sesi motivasi di pos kami \ masih berjalan lancar dan terkendali.
Pertanyaan-pertanyaan ‘Capek dek? Ngantuk
dek? Dingin dek?’ Seolah sudah terprogram untuk kami tanyakan sebelum
memulai sesi. Ujung-ujungnya sesi motivasi tersebut berubah jadi sesi curhat,
sesi godain peserta cowok (bagian yantchan), dan sesi gossip mode on mulai dari gossip artis, sampe gossip terbaru di
sekitaran pajak kabanjahe pun digelar (Maklumlah, Andi kan primadonanya pajak
Kabanjahe) sampe-sampe kami nggak sadar udah ngacangin peserta. Setelah semua
peserta selesai melewati pos pertama. Saya, Yantchan dan Andi langsung menuju
post ketiga dan menyaksikan langsung drama-drama klasik itu. Saya cuma bisa
diam dan sesekali bisik ke mereka –senior
sekasta yang nggak tegaan dan susah marah- “Kasiaaan yaa weeei”
Demi
menghemat waktu, setelah jerit malam usai, kami langsung melanjutkannya dengan
upacara pelantikan anggota baru. Upacaranya berlangsung agak dramatis kemudian
berubah mengharukan ketika bagian penyematan mitela sebagai tanda mereka sudah
dilantik dan bergabung menjadi bagian dari Lensa Alam. Banyak peserta yang nangis sewaktu
penyematan mitela. And look, betapa
magisnya kain segitiga merah itu bagi para anggota baru (Padahal kemarin-kemain
yantchan sempat ngatain itu mitela mirip underwearnya superman). Berakhirnya
upacara dilanjutkan dengan api unggun. Di api unggun ini para senior dan junior
atau anggota baru berkumpul mengelilingi api unggun sambil mengutarakan
pendapat tentang acara Diksar yang telah dilalui. Para junior bahkan menobatkan
beberapa senior dengan kategori-kategori tertentu. Dan tentu aja yang paling
populer masih sang ketua Juple.
Di
hari terakhir, Diksar diisi dengan acara games, pembagian piagam, sesi
photo-photo sampe pertunjukan tari saman sambil menunggu reda hujan yang
lagi-lagi mengguyur. Menjelang siang kami bersiap untuk kembali ke Medan.
Diksar pun berakhir happyending.
Finally,
Selamat bergabung para anggota baru Lensa Alam angkatan III. Selamat menjadi
bagian dalam keluarga besar Komunitas Lensa Alam buat seluruh pasukan Tirta
Kirana. Mudah-mudahan kedepannya, kita beserta komunitas ini makin eksis, makin
solid dan makin bermanfaat bagi masyarakat banyak. Saya beserta seluruh panitia
dan senior minta maaf kalau-kalau selama Diksar ada salah atau kurang berkenan
(semisal nyolongin nugget mungkin?). Pada dasarnya kami kan nggak bermaksud
demikian. Selain itu kami juga mengucapkan terimakasih atas partisipasi dan
kerjasama seluruh panitia dan peserta Diksar Lensa Alam, juga terimakasih sebesar-besarnya
atas bantuan dua tamu terhormat kita, pasukan khusus yang didatangkan langsung
dari Departemen Kehutanan FP USU, yaitu Risky dan fadhil, kita doain semoga
cepat wisuda. Seriously, they are really
the expert.
Again,
the last, salut buat semua anggota-anggota baru Lensa Alam yang muda-muda dan
kece-kece. Diksar udah membuktikan bahwa kalian pantas ada dalam lingkaran
komunitas ini untuk bersama-sama membangun dan menjaga eksistesi Lensa Alam
kedepannya. Semoga tetap bersemangat, berani dan mencintai alam ya, Adek-Adek.
Lestari!!!
Regard
Yati
*mewakili
mereka yang malas nulis
Kamis, 28 Mei 2015
Keep Calm and Pray
Hatimu dan hatiku,
Sempurna hanya milik
Allah
Pertemuan, perpisahan,
pertemuan, kemudian kembali
berpisah , sempurna atas kehendakNya.
Lalu sekuat apa kita mampu
bersikeras?
Ketika takdir sudah di
gariskanNya sedemikanrupa
Melampaui
hitung-hitungan manusia
Tentang kita,
Juga tentang jodoh,
Allah mugkin masih
berahasia
Entah nanti,
Usah risaukan bumi
membentang luas, jarak memuai jauh
Usah risaukan waktu
melaju cepat tanpa kompromi
Cinta yang indah, akan
hadir di waktu yang istimewa dalam keihklasan menunggu dan berikhitiar
Semata-mata demi
rhido-Nya
Isi saja penantian
dengan perbaikan demi perbaikan diri dan hati
Biarlah Ia, Dzat
Mahabijaksana yang menciptakan momentum pertemuan
Aku, kau, Kita, beserta cinta yang istimewa.
Yatie 2015
Menemukanmu....
Menemukanmu seperti
menemukan oase di tengah padang pasir tandus,
Lebur segala dahaga
penantian tak berujung
Menemukanmu seperti
menengadah memandang aurora di langit kutub utara,
Luruh segala dingin yang
menggigit sendi-sendi raga.
Garis-garis perjalanan yang
kau lalui, dan yang ku lalui berpotongan di satu titik yang tak terduga, di
suatu waktu yang paling bijak bagi-Nya untuk mengijabah doa-doaku yang kian
terasa mustahil
Kau tertawa, Kau
tersenyum, Kau berekspresi, begitu nyata.
Tapi aku tak ubahnya hantu
kasat mata yang tetap tak mampu kau tangkap dalam gelombang manusiamu. Keberadaanku
hampa, tak beraura.
Menemukanmu. Bukankah ini
cukup? Aku tak pantas meminta lebih.
Kau masih dengan mata
kanak-kanak yang sama, mata yang senantiasa dinaungi bulumata luarbiasa lentik,
tapi kutahu kau demikian mendewasa.
Betapa manusiawinya
gerak-gerikmu, Gesturmu. Kau lagi-lagi tersenyum, kau lagi-lagi tertawa
Di tengah keramaian dan
hiruk pikuk ini, aku hanya mampu menatap sekejab, untuk sekedar mengabadikan
moment, mengkristalkan rasa, agar nanti setelahnya tak ada yang patut kusesali.
Karena mungkin saja,
setelah ini, tak akan ada pertemuan-pertemuan lagi, garis kita tak lagi
berpotongan.
Kita menginjak lantai yang
sama, terpaut jarak tak lebih lima meter,
Tapi mengapa aku merasa
kau terlampau jauh?,
Aku bahkan tak mampu
bertelepati seperti yang kuharapkan jika kita bertemu
Bertelepati? konyol dan
berlebihan. Untuk itu, aku harus lebih dulu menyamakan kasta. Kau dan aku
selalu terasa dalam dimensi yang berbeda.
Kau masih pria dongeng
yang sama, yang hadir sekelebat kemudian menghilang secepat kilat sehingga
semua yang ada dalam anganku hanya tinggal wacana.
Mungkin adalah tabu
menatapmu demikian lama. Semakin lekat kutatap semakin lebar jurang pemisah menganga.
Semakin lekat kutatap, semakin tinggi singgasanamu mencuat. Aku tahu, aku selalu
berada pada titik yang tak mampu meraih.
Bolehkah aku merasa lega? Melihatmu
baik-baik saja. Bahwa kau mampu tertawa dan bahagia?
Menyadari ini semua,
betapa gila aku mencinta, hingga kabur terasa sekat-sekat rasionalitas dan
fantasi. Betapa sempurna aku menjadi bodoh. Betapa keterlaluan perasaan ini
menyiksa.
Lantas apa yang kumampu?
Riak-riak tak terduga
selalu datang tanpa petanda
Berubah menjadi badai,
menggetarkan palung hati sehingga remah-remah pengharapan mencuat ke permukaan
Menemukanmu,
Ingin membuatku segera
terbangun dari mimpi
Karena jauh sudah hatiku
tersesat
Arah pulang menjadi ambigu
Menemukanmu…
17
Mei 2015
Di
keramaian pesta
Langganan:
Postingan (Atom)