Lama-lama kita saling mengerti, seakan ada petanda petanda yang hanya kita berdua yang paham maknanya.
Kau mulai jatuh, sementara aku memikirkan cara untuk tetap teguh. Jangan terbawa arus sayang, moment ini tak akan lama. Karena kelak hanya kecewa yang kau dapat.
Tapi dalam guliran hari hari, mengapa semakin sulit kita menghindar, kita masuki lagi pusaran yang sama. Sejak kapan genggaman tanganmu begitu nyaman. Sejak kapan bahumu menjadi begitu akrab untuk bersandar
Tak bisa kupungkiri, aku membutuhkanmu disini..
Namun jika kelak aku pergi, lanjutkanlahh..
Hidupmu yg kembali tanpa aku..
Hidupmu yg damai tanpa riak
Mungkin aku cuma si numpang lewat
Iyat
Awal februari tahun ini
Efek curcol
Selasa, 02 Februari 2016
Jumat, 04 Desember 2015
Penghujung tahun ini
Holla, tanpa terasa kita udah berada di penghujung tahun. Akhirnya saya menulis lagi, dan akhirnya saya posting lagi. Postingan ini saya tulis dalam keadaan mood yg normal di rumah kontrakan saya, dan tepatnya sedang berada di samping ira yang saat ini tidur melintang di belakang pintu kontrakan persis palang pintu. Yak, itu tidak penting dan mari kita lanjutkan saja postingan ini
tanpa terasa desember hadir lagi. ini adalah desember pertama saya tidak berada di kota medan dan sekitarnya. Desember pertama saya tidak berada dekat dengan mamak, papa, dan si littlecrazy aii. meskipun penghujung tahun di dekat mereka, kami tak selalu melakukan ritual menyambut tahun baru yg spesial, saya tetap merindukan penghujung tahun bersama mereka.
Desember ini saya yakin tetap bekerja seperti biasanya, tetap berhadapan dengan seperangkat komputer dan sinar merah scanner yg kadang bikin silau. Tapi its oke, i will always oke. Apalagi selama ada ira. Si nenek lampir cerewet dan agen yang bisa diandalkan.
Tiga bulan ini begitu banyak hal yang saya sangat rindukan, naik gunung bersama lensa alam, doing something silly with yantchan, bahkan makan masakan mamak.
Tahun ini dipastikan tidak akan ada perayaan apa apa. Saya pasti akan bekerja seperti hari biasanya. bertemu dengan rekan kerja seperti biasa, dan istirahat sperti biasa. Saya belum tahu pasti bagaimana tempat ini menyambut tahun baru. Saya hanya berharap akan ada yg menarik.
Tiga bulan ini, saya berusaha menemukan ritme hidup yang baik. Tapi tampaknya saya terlalu malas. Mungkin saya harus sering sering mengingatkn diri sendiri untuk mulai memperbaiki pola hidup.
Desember ini saya harap akan menjadi desember yg baik hati. Semoga.
Iyatt
tanpa terasa desember hadir lagi. ini adalah desember pertama saya tidak berada di kota medan dan sekitarnya. Desember pertama saya tidak berada dekat dengan mamak, papa, dan si littlecrazy aii. meskipun penghujung tahun di dekat mereka, kami tak selalu melakukan ritual menyambut tahun baru yg spesial, saya tetap merindukan penghujung tahun bersama mereka.
Desember ini saya yakin tetap bekerja seperti biasanya, tetap berhadapan dengan seperangkat komputer dan sinar merah scanner yg kadang bikin silau. Tapi its oke, i will always oke. Apalagi selama ada ira. Si nenek lampir cerewet dan agen yang bisa diandalkan.
Tiga bulan ini begitu banyak hal yang saya sangat rindukan, naik gunung bersama lensa alam, doing something silly with yantchan, bahkan makan masakan mamak.
Tahun ini dipastikan tidak akan ada perayaan apa apa. Saya pasti akan bekerja seperti hari biasanya. bertemu dengan rekan kerja seperti biasa, dan istirahat sperti biasa. Saya belum tahu pasti bagaimana tempat ini menyambut tahun baru. Saya hanya berharap akan ada yg menarik.
Tiga bulan ini, saya berusaha menemukan ritme hidup yang baik. Tapi tampaknya saya terlalu malas. Mungkin saya harus sering sering mengingatkn diri sendiri untuk mulai memperbaiki pola hidup.
Desember ini saya harap akan menjadi desember yg baik hati. Semoga.
Iyatt
Minggu, 08 November 2015
November tiba,
Udara masih diselimuti kabut asap, meski tak setebal pertama kali aku menginjakkan kaki disini,
Aku menengadah dan rembulan jingga itu masih ada...
Tiba tiba saja kota ini tak seasing pertama kali
Memulai hari dengan perasaan tak siap bukanlah sebuah pilihan
Dan sudut ruangan dengan meja dan seperangkat komputer itu bukan seperti yang ada di benakku
Namun tak pantas kusampaikan penyesalan
Semua adalah pilihan yg sudah kueksekusi sendiri
Aku hanya mampu menstandartkan segala tahap tahapnya
Yg kadang tak sesuai logika manusia awam,
Perlahan aku kembali belajar
Mempelajari apapun itu
Termasuk mereview apa yg telah lewat
Masih banyak yg tak kutahu
Masih banyak yg sulit kuterima
Dari tahap tahap itulah aku akan berbenah sedikit demi sedikit
Ditempat ini aku membenci diam dan keheningan,
Membuatku merindu apa yang kujalani dulu
Rutinitas yg dulu ingin kutinggalkan
Malah kini sangat ingin kulakukan lagi
Aku rindu rasa dibutuhkan
Aku rindu detak detik jam yang berlalu cepat
Aku rindu kekumalan itu dan semua detail detailnya
Tempat yang dulu selalu membuatku merasa di remehkan, betapa ingin kudekap dan kuraba erat
November telah tiba
Namun belum kuketahui juga sebagai apa aku berlakon
Apakah aku sepenjaga, ataukah aku si pencari?
Rasanya, aku hanya ingin tempat itu, tempat aku bisa menguapkan rindu..
Iyatt
8 november 2015
Hujan buatan telah turun...
Aku menengadah dan rembulan jingga itu masih ada...
Tiba tiba saja kota ini tak seasing pertama kali
Memulai hari dengan perasaan tak siap bukanlah sebuah pilihan
Dan sudut ruangan dengan meja dan seperangkat komputer itu bukan seperti yang ada di benakku
Namun tak pantas kusampaikan penyesalan
Semua adalah pilihan yg sudah kueksekusi sendiri
Aku hanya mampu menstandartkan segala tahap tahapnya
Yg kadang tak sesuai logika manusia awam,
Perlahan aku kembali belajar
Mempelajari apapun itu
Termasuk mereview apa yg telah lewat
Masih banyak yg tak kutahu
Masih banyak yg sulit kuterima
Dari tahap tahap itulah aku akan berbenah sedikit demi sedikit
Ditempat ini aku membenci diam dan keheningan,
Membuatku merindu apa yang kujalani dulu
Rutinitas yg dulu ingin kutinggalkan
Malah kini sangat ingin kulakukan lagi
Aku rindu rasa dibutuhkan
Aku rindu detak detik jam yang berlalu cepat
Aku rindu kekumalan itu dan semua detail detailnya
Tempat yang dulu selalu membuatku merasa di remehkan, betapa ingin kudekap dan kuraba erat
November telah tiba
Namun belum kuketahui juga sebagai apa aku berlakon
Apakah aku sepenjaga, ataukah aku si pencari?
Rasanya, aku hanya ingin tempat itu, tempat aku bisa menguapkan rindu..
Iyatt
8 november 2015
Hujan buatan telah turun...
Kamis, 22 Oktober 2015
Sista birthday post..
Lahir dari rahim yang sama tidak membuat kami memiliki tabiat dan sifat yang sama. Kakak adalah si ekstrovert yg selalu sukses membangun relasi dengan siapapun. Sementara aku adalah si adik introvert yg lebih menggilai kesendirian dan selalu diselaputi keanehan.
Memutuskan untuk tinggal dan bekerja di lingkungan kakak membuatku tahu segala sesuatu tentangnya yg selama ini tidak kutahu ataupun kadang salah kuinterpretasikan.
Biasanya aku hanya menghadapinya pada musim musim tertentu, semisal musim lebaran ketika ia pulang kerumah. saat itu yang kutahu kakak hanyalah si nona ratu shopping yang bawel. Namun mengenalnya setiap hari dalam suasana kerja membuatku sadar bahwa aku memang salah interpretasi. Kakak adalah pekerja keras yang pintar, kepribadian kerjanya sekarang mungkin adalah hasil akumulasi tempaan waktu dan situasi sebelumnya. Buah yg ia petik sekarang bukan semata dari pohon ajaib yg tiba tiba tumbuh dibelakang rumah dalam semalam tapi hasil menanam bibit, hingga tumbuh bertunas dan menghasilkan buah.
Berada dalam lingkungan kerja yang sama, membuatku sadar kami berada dalam kasta yang berbeda. Hubungan adik kakak tiba saja lindap. Ia berubah menjadi orang lain yang tak pernah bisa kujengkali.
Tapi sebenarnya bukan itu yg kutakutkan. Aku hanya takut orang orang membuat komparasi terhadap kami. Dunia dan realitas yang kompetitif ini menjadikan orang orang peka dan pintar membandingkan. Orang- orang hanya akan terus menilai. Padahal aku tetap saja si adik yg introvert. Dan kakak tetap saja menjadi si supel ekstrovert.
Edisi curhat di ulang tahun kakak
Happy birthday, Allah Bless You as Always
Iyat
Memutuskan untuk tinggal dan bekerja di lingkungan kakak membuatku tahu segala sesuatu tentangnya yg selama ini tidak kutahu ataupun kadang salah kuinterpretasikan.
Biasanya aku hanya menghadapinya pada musim musim tertentu, semisal musim lebaran ketika ia pulang kerumah. saat itu yang kutahu kakak hanyalah si nona ratu shopping yang bawel. Namun mengenalnya setiap hari dalam suasana kerja membuatku sadar bahwa aku memang salah interpretasi. Kakak adalah pekerja keras yang pintar, kepribadian kerjanya sekarang mungkin adalah hasil akumulasi tempaan waktu dan situasi sebelumnya. Buah yg ia petik sekarang bukan semata dari pohon ajaib yg tiba tiba tumbuh dibelakang rumah dalam semalam tapi hasil menanam bibit, hingga tumbuh bertunas dan menghasilkan buah.
Berada dalam lingkungan kerja yang sama, membuatku sadar kami berada dalam kasta yang berbeda. Hubungan adik kakak tiba saja lindap. Ia berubah menjadi orang lain yang tak pernah bisa kujengkali.
Tapi sebenarnya bukan itu yg kutakutkan. Aku hanya takut orang orang membuat komparasi terhadap kami. Dunia dan realitas yang kompetitif ini menjadikan orang orang peka dan pintar membandingkan. Orang- orang hanya akan terus menilai. Padahal aku tetap saja si adik yg introvert. Dan kakak tetap saja menjadi si supel ekstrovert.
Edisi curhat di ulang tahun kakak
Happy birthday, Allah Bless You as Always
Iyat
Selasa, 20 Oktober 2015
Rembulan Jingga Sesore ini
Semua tetap asing, jiwaku tak mampu melebur
Sepanjang jalan setapak kecil yg penuh liku dan selalu dibalut kabut asap,
Aku merenungi tahap demi tahap perjalanan
Rembulan jingga itu tetap ada, di langit asing yang masih sama
Namun ia tak pernah terasa asing
Menemani dan menjadi teman imajiner setia
Wahai rembulan jingga, langit belum gulita
Tapi mengapa biasmu begitu kentara
Adakah kau mampu memindai hatiku
Yang kadang hanya mampu memendam
Adakah kau mampu menerjemahkan keluhku yang tak mampu bersuara
Rembulan jingga
Mengapa kau hadir sesore ini
Dalam sapuan sepanjang setapak kecilku
Iyatt
About inferior person
Di oktober -yang anehnya- masih kemarau
Sepanjang jalan setapak kecil yg penuh liku dan selalu dibalut kabut asap,
Aku merenungi tahap demi tahap perjalanan
Rembulan jingga itu tetap ada, di langit asing yang masih sama
Namun ia tak pernah terasa asing
Menemani dan menjadi teman imajiner setia
Wahai rembulan jingga, langit belum gulita
Tapi mengapa biasmu begitu kentara
Adakah kau mampu memindai hatiku
Yang kadang hanya mampu memendam
Adakah kau mampu menerjemahkan keluhku yang tak mampu bersuara
Rembulan jingga
Mengapa kau hadir sesore ini
Dalam sapuan sepanjang setapak kecilku
Iyatt
About inferior person
Di oktober -yang anehnya- masih kemarau
Jumat, 18 September 2015
Silent
Tuhan pasti punya hitungan matematis sendiri atas kau, aku, dan hubungan searah ini. Aku yang terus mencintaimu setengah mati sekaligus mengagumimu tanpa pernah membelot, dan kau yang terus tak pernah menyadarinya.
Sebelas tahun bukan waktu sebentar, namun juga bukan waktu yang panjang. Tidak ada skala waktu yang tepat untuk mengukur seberapa lama seseorang terpaku pada satu cinta sepanjang hidupnya. Selama itulah aku berada dalam titik edar tempat kau berada, tapi aku tak ubah roh kasat mata yang tak tertangkap mata telanjangmu.
Tak terhitung bosannya sitha, sahabat terbaikku mengingatkan untuk menyudahi cinta absurdku ini. Shita pulalah saksi nyata sebelas tahun itu. Sejak kita SMP sampai bangku perguruan tinggi.
Jika memang ada orang selain sitha yang mengetahui cinta absurd ini, mungkin mereka sudah menggangapku tak waras dan menganjurkanku segera konsultasi ke psikiater. Meskipun aku juga tidak yakin psikiater mampu menyelesaikan masalah ini.
Cinta padamu selama sebelas tahun adalah rahasia terbungkus keheningan yang rapi. Hanya kepada sitha aku membukanya. Terlalu jauh bagiku untuk berpaling dan mencoba lupa, kau sudah seperti gravitasi yang harus membuatku selalu lekat.
Aku ingat empat tahun lalu, aku di opname selama seminggu pasca ujian SNMPTN karena kelelahan belajar. Apakah aku perlu jelaskan kenapa? Ya, aku harus lulus di UI demi mengejar pusat gravitasiku. Gravitasi yang di paksakan. Kau.
Apakah kau perlu tahu juga kenapa kita bisa bersekolah di SMA yang sama dan sempat dua kali sekelas? Ya, karena alasan yang selalu sama, gravitasiku. Kau. Tidak mudah untuk lulus saringan masuk SMA favorit apalagi kelas unggulan. Dan aku mampu.
Cinta yang membangkitkan energi positif itulah yang selalu kujadikan sumpalan mulut sitha yg terus cerewet memaksaku menyerah.
Sangat sulit menyamai langkahmu. Kau terlahir dengan kecerdasan alamiah. Sementara butuh usaha ekstra bagiku untuk menapaki jalan yang sama denganmu. Apakah menurutmu aku sudah pantas?
Sebulan yang lalu, kita diwisuda bersama. Jangan tanya lagi kenapa bisa bersama. Kau dengan toga masih segagah lelaki kecil yg dulu mengenakan seragam putih abu abu ataupun putih biru.
Meskipun kau bermetamorfosa menjadi pemuda dewasa nan tampan, perasan ini tetap ada. Mengarat. Belasan tahun lamanya.
Tahukah kau bagaimana bebalnya cinta? Aku tahu sejak dulu kau hanya menganggapku sebagai Teman SMP, SMA, bahkan teman kampus sefakultas yang kadang kau temui tak sengaja di kantin atau di perpustakaan. Jika bertemu tak sengaja, kau hanya melontarkan sapaan paling universal sedunia dan aku membalas dengan jawaban basa basi paling universal sedunia. Dan perasaanku masih tetap bebal.
Sebelas tahun ini kau telah puluhan kali gonta ganti pacar, sementara aku tak pernah sekalipun menjalin hubungan pacaran dengan siapapun dan masih mencintaimu dalam keheningan.
Sebulan pasca wisuda kau diterima bekerja di sebuah BUmn. Sementara aku salah satu pelamar yang tak diterima.
Periode berikutnya aku kembali mencoba peruntungan gravitasi, dan aku kembali gagal. Lima kali aku mencoba, dan aku tetap gagal. Mungkin begitulah hitungan matematis Tuhan yang diluar jangkauanku meski sekuat apapun aku mencoba.
Cerita kau dan aku dan Cinta searah ini hanya milikku seorang dan kau yang tak pernah tahu.
Iyatt,
Di september kemarau
Sebelas tahun bukan waktu sebentar, namun juga bukan waktu yang panjang. Tidak ada skala waktu yang tepat untuk mengukur seberapa lama seseorang terpaku pada satu cinta sepanjang hidupnya. Selama itulah aku berada dalam titik edar tempat kau berada, tapi aku tak ubah roh kasat mata yang tak tertangkap mata telanjangmu.
Tak terhitung bosannya sitha, sahabat terbaikku mengingatkan untuk menyudahi cinta absurdku ini. Shita pulalah saksi nyata sebelas tahun itu. Sejak kita SMP sampai bangku perguruan tinggi.
Jika memang ada orang selain sitha yang mengetahui cinta absurd ini, mungkin mereka sudah menggangapku tak waras dan menganjurkanku segera konsultasi ke psikiater. Meskipun aku juga tidak yakin psikiater mampu menyelesaikan masalah ini.
Cinta padamu selama sebelas tahun adalah rahasia terbungkus keheningan yang rapi. Hanya kepada sitha aku membukanya. Terlalu jauh bagiku untuk berpaling dan mencoba lupa, kau sudah seperti gravitasi yang harus membuatku selalu lekat.
Aku ingat empat tahun lalu, aku di opname selama seminggu pasca ujian SNMPTN karena kelelahan belajar. Apakah aku perlu jelaskan kenapa? Ya, aku harus lulus di UI demi mengejar pusat gravitasiku. Gravitasi yang di paksakan. Kau.
Apakah kau perlu tahu juga kenapa kita bisa bersekolah di SMA yang sama dan sempat dua kali sekelas? Ya, karena alasan yang selalu sama, gravitasiku. Kau. Tidak mudah untuk lulus saringan masuk SMA favorit apalagi kelas unggulan. Dan aku mampu.
Cinta yang membangkitkan energi positif itulah yang selalu kujadikan sumpalan mulut sitha yg terus cerewet memaksaku menyerah.
Sangat sulit menyamai langkahmu. Kau terlahir dengan kecerdasan alamiah. Sementara butuh usaha ekstra bagiku untuk menapaki jalan yang sama denganmu. Apakah menurutmu aku sudah pantas?
Sebulan yang lalu, kita diwisuda bersama. Jangan tanya lagi kenapa bisa bersama. Kau dengan toga masih segagah lelaki kecil yg dulu mengenakan seragam putih abu abu ataupun putih biru.
Meskipun kau bermetamorfosa menjadi pemuda dewasa nan tampan, perasan ini tetap ada. Mengarat. Belasan tahun lamanya.
Tahukah kau bagaimana bebalnya cinta? Aku tahu sejak dulu kau hanya menganggapku sebagai Teman SMP, SMA, bahkan teman kampus sefakultas yang kadang kau temui tak sengaja di kantin atau di perpustakaan. Jika bertemu tak sengaja, kau hanya melontarkan sapaan paling universal sedunia dan aku membalas dengan jawaban basa basi paling universal sedunia. Dan perasaanku masih tetap bebal.
Sebelas tahun ini kau telah puluhan kali gonta ganti pacar, sementara aku tak pernah sekalipun menjalin hubungan pacaran dengan siapapun dan masih mencintaimu dalam keheningan.
Sebulan pasca wisuda kau diterima bekerja di sebuah BUmn. Sementara aku salah satu pelamar yang tak diterima.
Periode berikutnya aku kembali mencoba peruntungan gravitasi, dan aku kembali gagal. Lima kali aku mencoba, dan aku tetap gagal. Mungkin begitulah hitungan matematis Tuhan yang diluar jangkauanku meski sekuat apapun aku mencoba.
Cerita kau dan aku dan Cinta searah ini hanya milikku seorang dan kau yang tak pernah tahu.
Iyatt,
Di september kemarau
A Whole New World
Apa yg harus kuceritakan soal dunia baru ini, A whole new world 'ku dibuka dengan kabut asap dan musim yang kering. Bahkan rumput-rumput liar yg biasa bertahan dalam segala musim pun mati menguning.
A whole new world 'ku adalah dunia yang belum pernah kujalani sebelumnya dan dipenuhi semua hal yang tak pernah kupelajari semasa kuliah. Di dunia baru ini, semua teori Karl Mark mungkin tetap teori, ukuran sosial di lingkungan ini tidak bisa membuatnya eksis. Yang ku jalani hampir sepanjang hari adalah praktek lapangan pelajaran akuntansi waktu sma dulu. Dan itu semua tak pernah sesederhana yang kubayangkan.
Di dunia baru ini harapan tidak muluk pun harus kubiarkan kandas. Kumasuki dunia penuh klasifikasi, sistem kasta selalu ada hanya saja bermetamorfosa menjadi bentuk lain.Spesialisasi kerja pun sungguh tak pernah terlihat sederhana. Namun di dunia ini, juga di dunia manapun, bukankah keluhan tak pernah boleh dilontarkan??
Aku hanya berjalan, meniti dunia kerja yg bisa kuramalkan sebulan, setahun atau sepuluh tahun mendatang akan tetap konstan seperti ini. Lupakan soal hubungan mutual dan sejenisnya. Semua orang membangun hubungan dan interaksi hanya dengan membawa sepaket basa-basi standart.
Untuk sementara aku harus mengucapkan
Selamat tinggal pada negeri dongeng ku,
Peri-peri kata yang selalu menemani ruang immateril dan alam serba literasi.
Iyatt
Di september yang kemarau lahir dan batin
A whole new world 'ku adalah dunia yang belum pernah kujalani sebelumnya dan dipenuhi semua hal yang tak pernah kupelajari semasa kuliah. Di dunia baru ini, semua teori Karl Mark mungkin tetap teori, ukuran sosial di lingkungan ini tidak bisa membuatnya eksis. Yang ku jalani hampir sepanjang hari adalah praktek lapangan pelajaran akuntansi waktu sma dulu. Dan itu semua tak pernah sesederhana yang kubayangkan.
Di dunia baru ini harapan tidak muluk pun harus kubiarkan kandas. Kumasuki dunia penuh klasifikasi, sistem kasta selalu ada hanya saja bermetamorfosa menjadi bentuk lain.Spesialisasi kerja pun sungguh tak pernah terlihat sederhana. Namun di dunia ini, juga di dunia manapun, bukankah keluhan tak pernah boleh dilontarkan??
Aku hanya berjalan, meniti dunia kerja yg bisa kuramalkan sebulan, setahun atau sepuluh tahun mendatang akan tetap konstan seperti ini. Lupakan soal hubungan mutual dan sejenisnya. Semua orang membangun hubungan dan interaksi hanya dengan membawa sepaket basa-basi standart.
Untuk sementara aku harus mengucapkan
Selamat tinggal pada negeri dongeng ku,
Peri-peri kata yang selalu menemani ruang immateril dan alam serba literasi.
Iyatt
Di september yang kemarau lahir dan batin
Langganan:
Postingan (Atom)