Senin, 01 Juni 2015

A Little Story From Tahura, Berastagi (Diksar Lensa Alam Angk. III, 29-31 mei 2015)




“Dalam lambung hutan, tak jarang status manusia menciut jadi kutu yang tersesat dalam liukan bulu biri-biri. Tidak hanya predator seperti singa yang harus diwaspadai, tetapi juga rimba mikroba yang tak kelihatan.” –Partikel-

Potongan kalimat tersebut terus terngiang dibenak saya dalam kegiatan Diksar Lensa Alam beberapa hari yang lalu. Menyusuri jalur kecil dalam belantara salah satu hutan Sumatera sembari menghindari semak belukar seorang diri demi menjemput yantchan, -SiPatnerInCrime, juga salah satu panitia Diksar- membuat saya menyadari satu dan lain hal. Bahwa manusia telah jauh berevolusi meninggalkan alam, membentengi diri dalam tembok semen dan tempat hangat yang nyaman. Bahwa manusia senantiasa bergantung pada teknologi modern dan melebur dalam peradaban tinggi, sehingga kadang lupa diri dan bertingkah angkuh. Hutan, beserta isinya menyadarkan kita (terutama saya), Mahakarya Sang Ilahi jauh lebih berkelas dan digdaya bahkan ketimbang teknologi canggih manusia yang senantiasa mereka perbaharui.
Awalnya saya tidak pernah berekspektasi besar akan perkembangan komunitas Lensa Alam ini. Bagi saya, bertemu mereka (pasukan lensa alam angk. I dan II) serta berpetualang dan menjelajah alam bersama sembari bercanda sudah begitu cukup menyenangkan. Jadi, perekrutan anggota baru serta kegiatan Diksar kemarin merupakan pencapaian luar biasa bagi saya, teman-teman anggota yang lain dan komunitas ini. Disamping itu, saya juga belajar bahwa menyelenggarakan sebuah event yang tergolong sederhana sekalipun tidak segampang yang  dipikirkan. Banyak hal sulit dan merepotkan yang saya dan panitia lainnya hadapi. Saya dan ketua Juple bolak-balik bertemu membahas pengelolaan anggaran, penyusunan acara, penentuan tempat, dan brieffing persiapan serta hal lain-lain. Begitu juga dengan teman-teman panitia lainnya. Menjadi panitia kegiatan ini membuat kami harus rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan materi demi kesuksesan event istimewa ini. Sehingga,terselesaikannya acara kemarin dengan cukup sukses mampu melunasi lelah kami sedari awal.
Pertemuan pertama saya dengan para peserta Diksar adalah saat brieffing seminggu menjelang keberangkatan. Meski belum banyak dan masih muda-muda, para peserta Diksar memberi harapan baru bagi komunitas kecil ini untuk terus berkembang dan tetap menjaga eksistensi. Karenanya, kedepannya Lensa Alam tidak sekedar sarana untuk ‘camping-camping cantik’ tapi juga sebagai sarana untuk mengenalkan pengetahuan alam dan kegiatan outdoor lainnya secara langsung dan praktis pada generasi-generasi muda yang bersemangat seperti mereka-mereka ini.
Well People, saya akan bercerita sedikit perihal kegiatan Diksar Lensa Alam angkatan III  yang berlangsung 29-31 Mei di Tahura berastagi kemarin. Kegiatan ini berjalan sesuai rencana meski tidak seratus persen. Masih banyak kekurangan di sana-sini, karena beberapa kendala teknis, salah satunya penggantian lokasi kegiatan beberapa hari menjelang hari H.
Hal lainnya yang unpredictable tentu saja kondisi cuaca yang tak menentu. Belum lagi Diksar resmi dibuka, para peserta sudah dihadiahi hujan yang mengguyur deras sepanjang perjalanan dari Medan menuju Berastagi.  Sebagai penumpang tarum, tentu saja, badan serta barang bawaan tak luput dari guyuran hujan.  Tapi dari apa yang saya lihat, para peserta, tampak ceria-ceria aja meski mungkin sudah dijamin masuk angin. Hujan baru menunjukkan tanda-tanda reda menjelang malam. Sehingga kami, para panitia tetap memutuskan melanjutkan acara. Sekitar pukul sembilan malam, acara pembukaan Diksar resmi dibuka. Kemudian dilanjutkan dengan sesi perkenalan komunitas dan anggota yang hadir serta perkenalan dari para peserta.
Meski tampak lelah dan kedinginan, para peserta tetap semangat memperkenalkan diri. Peserta angkatan III ini kebanyakan adalah perempuan. Setidaknya ini bisa jadi bukti bahwa kegiatan jelajah alam nggak hanya dominasi kaum laki-laki. Semakin banyak perempuan yang punya passion pada kegiatan outdoor. Para perempuan-perempuan muda ini buktinya,
Malam harinya, ketika semua peserta Diksar sudah dipastikan masuk tenda untuk beristirahat. Dimulailah sesi bongkar-bongkar tas nyolongin snack bawaan peserta (kalo kegiatan cenderung Kriminal gini, pasti perempuan yang ditugaskan. Saya dan Anum lah jadi tumbalnya). Acara panitia selanjutnya setelah nyolongin snack adalah rapat-rapat panjang dini hari untuk materi tracking keesokan harinya (lagi-lagi saya dan Anum kebagian tugas masak nugget hasil menjarah, dan mereka tinggal makan).
Hari kedua Diksar dimulai dengan ber’SKJ’ ria setelah subuh dilanjutkan dengan kegiatan masak dan sarapan oleh peserta. Selagi peserta sarapan dan beres-beres, Para tim pendahulu berangkat menuju lokasi tracking dan pos masing-masing. Jalur tracking yang akan dilewati peserta dibagi menjadi tiga pos. Pos terakhir berada di air terjun barus. Usai sarapan dan bersiap-siap, peserta dibariskan kemudian peserta tim pertama diberangkatkan lebih dulu. Tim selanjutnya berangkat apabila, tim pertama telah meninggalkan pos pertama. Di masing-masing pos semua peserta dibekali materi-materi. Selain jalur tracking yang semakin lama semakin sulit dan licin, godaan-godaan pacat penghisap darah, senior-senior yang seketika berkelakuan seperti singa lapar pun menjadi tantangan tersendiri bagi masing-masing peserta Diksar. Namun sejauh pengamatan saya, mereka masih oke-oke aja baik mental maupun fisik.
Pulang tracking air terjun, para peserta diberikan waktu untuk bersih-bersih, mandi, sholat dan beristirahat. Sementara itu, saya, Yantchan, Anum dan Syadi –kami, yang tadinya jaga wibawa sok kuat mendampingi peserta (padahal cuma modal lontong)-, selesai tracking langsung ngacir makan ke warung. Sampe-sampe syadi sesumbar kalo dia bisa ngabisin enam telor dadar sekaligus, padahal cuma sanggup beli satu. Pulang makan barulah kami, bersih-bersih dan memulai rapat-rapat panjang dan briefing-brieffing membosankan ala panitia itu sampe beranjak malam.
Lewat tengah malam, para peserta kembali dibangunkan. Dan dimulailah adegan klasik inisiasi anggota baru organisasi manapun di muka bumi ini dari jaman kejaman. Tidak lain, tidak bukan, tidak salah lagi, Jerit Malam. Saya, Yanti dan Andi yang berimage lembut (entah lemot?) nggak bisa marah, super nggak tegaan, diutus dan ditugaskan di pos pertama yang berupa pemberian motivasi agar para peserta yang sudah lelah kembali bersemangat di acara puncak ini.
Awalnya, sesi motivasi di pos kami \ masih berjalan lancar dan terkendali. Pertanyaan-pertanyaan ‘Capek dek? Ngantuk dek? Dingin dek?’ Seolah sudah terprogram untuk kami tanyakan sebelum memulai sesi. Ujung-ujungnya sesi motivasi tersebut berubah jadi sesi curhat, sesi godain peserta cowok (bagian yantchan), dan sesi gossip mode on mulai dari gossip artis, sampe gossip terbaru di sekitaran pajak kabanjahe pun digelar (Maklumlah, Andi kan primadonanya pajak Kabanjahe) sampe-sampe kami nggak sadar udah ngacangin peserta. Setelah semua peserta selesai melewati pos pertama. Saya, Yantchan dan Andi langsung menuju post ketiga dan menyaksikan langsung drama-drama klasik itu. Saya cuma bisa diam dan sesekali bisik ke mereka –senior sekasta yang nggak tegaan dan susah marah- “Kasiaaan yaa weeei”
Demi menghemat waktu, setelah jerit malam usai, kami langsung melanjutkannya dengan upacara pelantikan anggota baru. Upacaranya berlangsung agak dramatis kemudian berubah mengharukan ketika bagian penyematan mitela sebagai tanda mereka sudah dilantik dan bergabung menjadi bagian dari Lensa Alam. Banyak peserta yang nangis sewaktu penyematan mitela. And look, betapa magisnya kain segitiga merah itu bagi para anggota baru (Padahal kemarin-kemain yantchan sempat ngatain itu mitela mirip underwearnya superman). Berakhirnya upacara dilanjutkan dengan api unggun. Di api unggun ini para senior dan junior atau anggota baru berkumpul mengelilingi api unggun sambil mengutarakan pendapat tentang acara Diksar yang telah dilalui. Para junior bahkan menobatkan beberapa senior dengan kategori-kategori tertentu. Dan tentu aja yang paling populer masih sang ketua Juple.
Di hari terakhir, Diksar diisi dengan acara games, pembagian piagam, sesi photo-photo sampe pertunjukan tari saman sambil menunggu reda hujan yang lagi-lagi mengguyur. Menjelang siang kami bersiap untuk kembali ke Medan. Diksar pun berakhir happyending.
Finally, Selamat bergabung para anggota baru Lensa Alam angkatan III. Selamat menjadi bagian dalam keluarga besar Komunitas Lensa Alam buat seluruh pasukan Tirta Kirana. Mudah-mudahan kedepannya, kita beserta komunitas ini makin eksis, makin solid dan makin bermanfaat bagi masyarakat banyak. Saya beserta seluruh panitia dan senior minta maaf kalau-kalau selama Diksar ada salah atau kurang berkenan (semisal nyolongin nugget mungkin?). Pada dasarnya kami kan nggak bermaksud demikian. Selain itu kami juga mengucapkan terimakasih atas partisipasi dan kerjasama seluruh panitia dan peserta Diksar Lensa Alam, juga terimakasih sebesar-besarnya atas bantuan dua tamu terhormat kita, pasukan khusus yang didatangkan langsung dari Departemen Kehutanan FP USU, yaitu Risky dan fadhil, kita doain semoga cepat wisuda. Seriously, they are really the expert.
Again, the last, salut buat semua anggota-anggota baru Lensa Alam yang muda-muda dan kece-kece. Diksar udah membuktikan bahwa kalian pantas ada dalam lingkaran komunitas ini untuk bersama-sama membangun dan menjaga eksistesi Lensa Alam kedepannya. Semoga tetap bersemangat, berani dan mencintai alam ya, Adek-Adek. Lestari!!!

Regard
Yati
*mewakili mereka yang malas nulis





Kamis, 28 Mei 2015

Keep Calm and Pray


                                                            
Hatimu dan hatiku,
Sempurna hanya milik Allah

Pertemuan, perpisahan,
pertemuan, kemudian kembali berpisah , sempurna atas kehendakNya.
Lalu sekuat apa kita mampu bersikeras?
Ketika takdir sudah di gariskanNya sedemikanrupa
Melampaui hitung-hitungan manusia

Tentang kita,
Juga tentang jodoh,
Allah mugkin masih berahasia
Entah nanti,

Usah risaukan bumi membentang luas, jarak memuai jauh
Usah risaukan waktu melaju cepat tanpa kompromi
Cinta yang indah, akan hadir di waktu yang istimewa dalam keihklasan menunggu dan berikhitiar
Semata-mata demi rhido-Nya
Isi saja penantian dengan perbaikan demi perbaikan diri dan hati
Biarlah Ia, Dzat Mahabijaksana yang menciptakan momentum pertemuan
Aku, kau,  Kita, beserta cinta yang istimewa.

Yatie 2015

Menemukanmu....


Menemukanmu seperti menemukan oase di tengah padang pasir tandus,
Lebur segala dahaga penantian tak berujung

Menemukanmu seperti menengadah memandang aurora di langit kutub utara,
Luruh segala dingin yang menggigit sendi-sendi raga.

Garis-garis perjalanan yang kau lalui, dan yang ku lalui berpotongan di satu titik yang tak terduga, di suatu waktu yang paling bijak bagi-Nya untuk mengijabah doa-doaku yang kian terasa mustahil

Kau tertawa, Kau tersenyum, Kau berekspresi, begitu nyata. 
Tapi aku tak ubahnya hantu kasat mata yang tetap tak mampu kau tangkap dalam gelombang manusiamu. Keberadaanku hampa, tak beraura.
Menemukanmu. Bukankah ini cukup? Aku tak pantas meminta lebih.

Kau masih dengan mata kanak-kanak yang sama, mata yang senantiasa dinaungi bulumata luarbiasa lentik, tapi kutahu kau demikian mendewasa.

Betapa manusiawinya gerak-gerikmu, Gesturmu. Kau lagi-lagi tersenyum, kau lagi-lagi tertawa

Di tengah keramaian dan hiruk pikuk ini, aku hanya mampu menatap sekejab, untuk sekedar mengabadikan moment, mengkristalkan rasa, agar nanti setelahnya tak ada yang patut kusesali.

Karena mungkin saja, setelah ini, tak akan ada pertemuan-pertemuan lagi, garis kita tak lagi berpotongan.

Kita menginjak lantai yang sama, terpaut jarak tak lebih lima meter,
Tapi mengapa aku merasa kau terlampau jauh?,
Aku bahkan tak mampu bertelepati seperti yang kuharapkan jika kita bertemu
Bertelepati? konyol dan berlebihan. Untuk itu, aku harus lebih dulu menyamakan kasta. Kau dan aku selalu terasa dalam dimensi yang berbeda.

Kau masih pria dongeng yang sama, yang hadir sekelebat kemudian menghilang secepat kilat sehingga semua yang ada dalam anganku hanya tinggal wacana.

Mungkin adalah tabu menatapmu demikian lama. Semakin lekat kutatap semakin lebar jurang pemisah menganga. Semakin lekat kutatap, semakin tinggi singgasanamu mencuat. Aku tahu, aku selalu berada pada titik yang tak mampu meraih.

Bolehkah aku merasa lega? Melihatmu baik-baik saja. Bahwa kau mampu tertawa dan bahagia?
Menyadari ini semua, betapa gila aku mencinta, hingga kabur terasa sekat-sekat rasionalitas dan fantasi. Betapa sempurna aku menjadi bodoh. Betapa keterlaluan perasaan ini menyiksa.
Lantas apa yang kumampu?

Riak-riak tak terduga selalu datang tanpa petanda
Berubah menjadi badai, menggetarkan palung hati sehingga remah-remah pengharapan mencuat ke permukaan

Menemukanmu,
Ingin membuatku segera terbangun dari mimpi
Karena jauh sudah hatiku tersesat
Arah pulang menjadi ambigu

Menemukanmu…

17 Mei 2015
Di keramaian pesta




Kamis, 12 Maret 2015

Rentang Waktu

__Tahun ini, hari ini, detik ini
Aku tahu sejauh apapun aku pergi, kita akan bertemu pada suatu waktu
Seperti di detik ini, berdiri berseberangan dalam diam
Kita berlomba-lomba menjadi patung dan hanya menatap satu sama lain, seolah-olah mencari cerita dalam rongga mata masing-masing.
Aku, juga perasaanku, susah payah menghindarimu
Aku, juga hatiku, susah payah berdamai dengan penyesalan
Lantas, mengapa kita harus bertemu dan bertatap muka seperti sekarang?

__Beberapa tahun yang lalu
Jangan mengasihaniku, aku sendiri atas pilihanku
Dan kau berdua atas pilihanmu,

­__Detik Ini
Sekarang, atau pun dulu aku tak bisa membaca hati
Awalnya kupikir kau juga berpaling dan mencoba berdamai atas keputusanku
Tapi kini, yang kulihat, kau sudah menyesuaikan diri.
Menutup celah-celah yang dulu kau harap aku mampu mengisinya
Kini, kau berdiri dihadapanku. Tersenyum. Apa maksud senyum itu?
Kau mengejek?
Kau ingin bilang kau bisa bahagia tanpa aku disisimu?
Tak usah repot-repot, Aku tahu

__Detik ini
Jangan berbaik hati lagi, aku tak sudi menerimanya
Imajinasiku dipenuhi dirimu dan dia
Aku muak. Aku marah. Entah mengapa,
Tapi aku pandai berpura-pura
Aku pandai berpura-pura  ‘aku tak apa-apa’

­__Detik ini
Perlahan kulangkahkan kakiku, melewatimu yang bergeming
Aku ingin menjadi yang pertama meninggalkan
Aku tak ingin ditinggalkan, itu terlalu menyakitkan
Jangan  cegah aku, jangan tahan aku.
Tapi apa?
Kau menangkap pergelangan tanganku.
Aku ingin menepis, tapi tak bisa,
Sejak kapan kau menjadi begitu kuat?
Dan lihat tatapan matamu,? Cihh, aku tak butuh
Aku tak percaya kata-katamu, dulu, juga sekarang
Kau sandera jiwa pecundangmu dibalik kata-kata bersayap
Untungnya aku tak tertawan di dalamnya
Setahun, dua tahun, tiga tahun, berapa? Berapa kali putaran bumi perasaan itu mampu kau jaga?
Sangat sebentar, wahai lelaki
Setelahnya kau langsung mengikat hubungan dengan orang lain
Secepat itu kau jatuh cinta
Kau benar-benar seorang pecundang
Aku tak ingin  sekarat karenamu
Aku akan tegar jika kita berhadapan lagi, Meski sendiri

__Beberapa tahun lalu
Aku menangis, menyadari perasaanmu
Telah lama aku diabaikan
Tapi aku tak bisa menerima perasaan itu,
Aku tidak yakin
Aku takut, terlalu takut akan menyakiti hatimu juga hatiku
Aku takut patah hati lagi, dan aku takut sewaktu-waktu melukaimu
Aku memang egois
Dan lihat, kau malah tersenyum, seolah bisa menerima
Apakah kau marah? Apakah kau kecewa?
Katakan sesuatu, aku tak bisa membaca hati.
Kau bungkam,
Esoknya kita kembali berpapasan secara tak sengaja
Dan kau bergeming seolah tak mengenalku
Maaf, maaf
Aku ingin selalu berbuat baik padamu. Tapi soal perasaanmu, itu diluar kendaliku
Tapi apa yang kemudian kita lakukan? Tarik ulur seolah kita main layangan.
Lalu kau tiba-tiba mengabarkan kau tak sendiri
Tersirat, kau ingin bilang bahwa aku putus benang
Dibalik kabarmu, kau ingin mengingatkanku agar jangan bermain layangan lagi
Ini seperti lelucon, entah kau atau aku yang bimbang
Aku benar-benar tak ingin menemuimu lagi
Sungguh
Kini aku mencoba
Jadi jangan datang lagi
Mari kita tinggalkan semuanya
Aku, kau, kita, tidak pernah ada


Pertengahan Maret 2015
Ps: tentang kisah seorang cinggu, semoga tersampaikan. "sori ya nake, udah dipublish (^_^)v

Jumat, 06 Maret 2015

Dua Keping

Keping Pertama :  Siapakah Aku?
Siapakah aku?
Yang tak lagi mampu kau ingat setelah tahunan lamanya.
Untukmu, Aku masih mampu mengingat tatapan mata dengan sinar rembulan milikmu bertahun-tahun yang lalu
Siapakah aku?
Debu. Debu. Hilang dalam sekali hembusan .
Untukmu, Aku masih mampu meraba debu itu. Secuil hal yang masih melekat dan tak pernah kuanggap debu
Siapakah aku?
Tak ada, tak pernah ada dalam ceritamu. Tidak melalui satu tokoh pun aku mampu menyatakan eksistensi
Untukmu, Aku masih merasakan kehadiranmu, dalam detik, menit, jam, hingga skala waktu yang paling besar sekalipun. Malam-malam sekarat akan bayang-bayangmu
Siapakah aku.
Tak ada. Nyaris utopia
Untukmu, Aku masih mencinta, lekat hingga lapisan tulang, hingga membran sel paling tipis…
Kau masih ada disitu.

Keping kedua : Pesan Terdalam untukmu
Kau telah menempuh jalan panjang
Kau telah mengupayakan nyaris semuanya
Kau memang tak mendapatkan apa yang kau begitu kau mau
Tapi Allah memberi ganti yang lebih baik dari apa yang kau mau

Sekarang, kumohon berbahagialah
Dengan seseorang yang telah menerimamu sebagai teman berbagi takdir
Yakinilah ia yang terbaik
Dan pencarianmu telah usai
Jangan ingat akan aku
Jangan pikirkan masalalu
Jangan pernah kecewa atas semua perjuangan dan rasa sakit yang kau terima
Yang tak kau dapat mungkin memang bukan yang tepat untuk kau miliki
Lupakan, sepenuhnya lupakan
Kau memang harus berpaling dariku
Seseorang yang hanya mampu melukaimu demikian banyak dan demikian sering
Lanjutkanlah hidupmu
Berbahagialah

 Maret 2015

Minggu, 01 Maret 2015

Jasad

Seberapa penting jasad tempat ruh kita bersemayam,
Seberapa pentingkah?

Apa hanya sebagai akomodasi menginapnya jiwa?
Apa hanya sebagai tranportasi mengendarai perjalanan hidup?

Lalu, demikian banyak manusia menilai jasad bernyawa ini.
Membuat ukuran Cantik, jelek, tinggi, putih, kurus, gemuk, jerawatan, kribo dan sebagainya
Seberapa penting itu semua?
Seolah-olah jasad adalah model iklan
Lalu sesuatu meperbudak kita, entah apa entah siapa?
Menawarkan produk-produk agar kita mencapai standart umum jasad yang selayaknya


Seberapa pentingkah jasad??





Waktu Telah Meniadakan Kita

Vin menatap nanar api yang berkobar dalam bejana di depannya, asap mengepul dan kemudian pandangannya mengabur. Pandangannya kembali jelas setelah bulir-bulir itu tumpah dari bola matanya. merembes dipipinya. Api melahap berlembar-lembar kertas. Nyatanya itu hanya bundelan kertas, tapi bagi Vin, api itu sedang melahap hidupnya.


"Mengapa aku menulis? karena aku tidak ingin waktu meniadakan memori kebersamaan kita. aku tidak ingin waktu meniadakan kita"

Vin tersenyum getir mengingat ucapanya dulu. Sekarang setelah enam tahun berlalu, ia ingin menulis sesuatu lagi. Memulai lagi apa yang begitu ia senangi. Menulis. Vin mulai menulis, lembar kertas pertamanya lagi, sejak enam tahun lalu meniadakan mereka dalam kobaran api.

Di hari yang hening ini, aku ingat sesuatu. Aku membakar tulisan-tulisanku. Semua yang hanya mampu kuterjemahkan dalam bait-bait kata dan kalimat tentang perasaanku kepadamu. Banyak sekali, berlembar-lembar. Puisi, cerita, jurnal harian, diary, yang didalamnya tak pernah luput kutulis namamu.

Dalam sebuah bejana besi, dimana api berkobar di dalamnya. Kumasukkan berlembar-lembar kertas itu. yang kemudian bertransformasi menjadi abu. Hitam, legam, seperti yang kurasakan. Namun itu tak lantas memusnahkan kenangan dan apa yang tersisa dihatiku. Cinta, benci, kelewat kecewa tetap lekat tertinggal. Entah sebentar, entah lama, atau mungkin selamanya.

Awalnya kupikir, semua yang ingin kukatakan padamu akan ditiadakan waktu. Akan ditiadakan memori. Sejauh manakah kita dapat mengingat kenangan? Karena itu aku menulis. Aku tak ingin waktu meniadakan kita serta perasaan ini. Tapi kemudian aku merasa, apa yang kupikirkan dulu keliru. Waktu tetap meniadakan segalanya.

Suatu kali kau bilang kau perlu bukti tentang semua perasaanku. Kau meragukan perasaanku karena aku bahkan tak pernah mengungkapkanya.  Lalu kujawab, bahwa tak ada yang memang mampu kubahasakan secara lisan. Aku mengatakan padamu bahwa kau tak perlu khawatir karena semua yang kurasa telah kutuliskan rapi. Kata, kalimat, bait, sampai menjadi bundelan kertas-kertas semua ada. Kau terkejut, kau mendesakku memberikan bukti konkret itu secepatnya. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Lalu kemudian apa?, Kita mengakhirinya begitu saja, bahkan sebelum sempat memberikan bundel kertas itu.

Suatu sore, sambil berpegangan tangan kita memutuskan berpisah. Aku menggenggam tanganmu demikian erat. Sebuah upaya, agar airmataku tak tumpah. tapi sia-sia. Aku tak ingin menyesalkan keputusan kita. Setelahnya, kau mengantarku pulang, bahkan sampai di depan pintu rumah. Tapi tak kau ucapkan sepatah katapun lagi bahkan kau langsung melesat pergi tanpa pernah menatapku. kemudian yang kulakukan adalah mencari bundel kertas itu.

Di hari yang hening ini, aku tak tahu harus merasa bersyukur atau menyesal karena tak sempat memberikan tulisan-tulisan itu dan malah memusnahkannya. waktu telah meniadakan kita. Sekarang, kau, juga aku telah melanjutkan hidup, menempuh jalan kita masing-masing. 

Setelah enam tahun berlalu -Vin-

Vin menutup lembar pertama jurnalnya. Ia akan berdamai setelah enam tahun

Awal Maret 2015