Senin, 02 Februari 2015

Wahai Perempuan



Sebanyak apa hatimu tergores wahai perempuan?
Tidak kau curi kebahagian orang lain, tidak kau curangi hati siapapun,
Tapi mengapa demikian banyak luka kau dapatkan
Tak pernah kesedihan beringsut dibalik tawa palsumu, tak ada intervensi, bebas namun kosong
Tak pernah lagi kau lucuti rasa takutmu, kau biarkan ia merajai

Kau ajarkan hatimu untuk belajar sembuh sendiri, belum sembuh luka, sayatan lain datang
Masih mengertikah engkau cara menangis, wahai perempuan?

Sebanyak apa kau dicerca? Sesering apa kau dijatuhkan?
Hingga hilang tak berbekas percaya dirimu, hingga menguap segenap keberanianmu
Akhirnya diam yang hanya mampu kau dayakan

Sedetik, sehari, seminggu, sebulan, setahun, sekian lamanya tak ada yang kau bahasakan
Kau bungkam. Lantas mengapa harapan itu membubung tinggi. Menjulang menyentuh awan

Sesering apa kau berlari menghindari, wahai perempuan?
Tak lelah hantu-hantu mengerikan itu mengejarmu
Dari setiap sudut mereka mengepung, tak ada tempat bagimu bersembunyi

Apa kau begitu kesepian?
Terbuka semua celah, pelahan-lahan orang-orang  mengintip
Kosong melompong
Berusaha kau tutupi, kau sumpal, kau buat kedap
Meski tak terlihat lagi diluar, di dalam tetap hampa
Karena tak pernah bisa kau dustai dirimu sendiri, wahai perempuan?

for learning the strange


Senin, 26 Januari 2015

2nd Entry in 2015

Halo,

Setelah opening 2015 dengan sebuah postingan puisi berthema galau-susah-move on yang tidak jelas juntrungannya beberapa hari yang lalu. Kali ini saya akan berbagi cerita tentang beberapa hal yang (mungkin) lebih jelas. *pasangmukaserius*

Tidak seperti mayoritas umat manusia dimuka bumi ini yang mengisi awal tahun dengan liburan tahun baru dan sebagainya (meskipun liburan tersebut cuma nongkrong depan tv di rumah), saya adalah si anti-manistream yang tetap bekerja (meskipun cuma kerja sama ortu dan.. sebut saja itu semi profesional, supaya saya agak sedikit terhibur).

Tahun 2014 kemarin bukan tanpa kenangan, saya harus bersyukur karena di tahun itu akhirnya saya bisa melewati satu moment menegangkan bernama sidang skripsi dan alhamdulillah saya lulus, meskipun sampai sekarang revisi belum juga kelar. Di akhir tahun  2014 juga ada dua moment yang cukup memorable  bagi yaitu Pertama, acara bakti sosial peduli Sinabung komunitas Lensa Alam, yang setahun lalu saya turut bergabung di dalamnya. Meskipun tidak berperan besar, saat-saat bersama teman-teman di komunitas itu selalu menyenangkan dan rame joke. Moment kedua adalah reuni kecil dadakan bersama salah seorang Patner in crime saya semasa SMA, riska veronica alias riskut. Riskut bekerja di Jakarta sejak dua tahun yang lalu dan aksi mudiknya kemarin menjadi kesempatan langka buat kami bertemu dan berbagi cerita. Tak banyak yang berubah dari riskut, kecuali cara bisanya yang sekarang suka keceplosan -gua-elu-.  Moment kemarin cuma acara makan bareng yang lebih mirip adegan penculikan serta kunjungan ke rumah salah seorang teman yang baru mempunyai anak, tapi bagi saya itu  'pleased enough'. So, thankyou Kut.

Agenda awal tahun saya baru benar-benar terlaksana, dimana dihari keenam awal tahun saya balik ke medan dengan maksud membantu sidang seorang yantchan. Setelah acara sidang yantchan 'bubar jalan' , tak ubahnya drama  baru keluar kandang, begitu banyak planning meledak-ledak di kepala kami yang ingin kami lakukan dalam waktu dekat. Dari yang paling sederhana sampai yang paling tidak masuk akal, misalnya berencana hijrah ke planet Do min joon si alien tampan cenderung cantik di sebuah drama korea.

Sampai pertengahan bulan januari, kegiatan bersenang-senang tak jelas juntrungannya terus berlanjut. bersama seorang homemate saya di medan yang sering kami panggil irma eonni yeopoeyo. Secara perlahan kami mulai membentuk segitiga mutual atas kesamaan tempat, dan waktu senggang. Saya, yantchan, dan irmaeonni adalah 3 sudut pembentuk segitiga mutual yang berujung pada kegiatan Q-time kemana-mana bareng. Q-time tersebut termasuk selebrasi 7th anniversary yantchan dan misi yang kami sebut 'findingLeluhur' ke Galeri Rahmad (misi itu gagal, dan kami berencana membuat sekuelnya yaitu 'findingLeluhur II ke kebun Binatang Pematang Siantar).

Meskipun diselingi revisi demi revisi (yang nggak seberapa) yang terpaksa saya kerjakan di perpustakaan kampus demi menjaga mood agar tak berlarian. Kegiatan demi kegiatan yang kami lakukan semakin memperkokoh segitiga mutual tadi. Yang membahayakan dari semua itu adalah perasaan susah move-on dari kegiatan-kegiatan menyenangkan dan mencoba melupakan realitas tersebut. Irmaeonni mungkin sudah memasuki realitas sejak mulai bekerja hari ini. Tapi saya dan yantchan belum. Kami masih bergulat dengan perasaan tidak repot peduli yang belakangan semakin terasah karena keseringan dinilai, diterka, dikatain, dinasehatin dengan berbagai sudut pandang ideal orang kebanyakan. Perasaan senasib sebagai orang payah  mau tak mau membuat kami beraliansi dan saling melindungi. *Menerawang*

Sampai sekarang, saya masih terobsesi dengan kopi, sibuk menyempurnakan isi Scrapbook dengan catatan perjalanan yang tak seberapa, dan membenamkan diri pada  project baru bernama BiruKelana Project. Scrapbook memang tak terlalu intens, tapi  obsesi kopi membuat saya hampir tak ternah tidur karena overkafein dan ditambah lagi Project BiruKelana membuat pikiran saya melayang-layang dengan segala ide yang nyaris membuat kepala meledak. Terlalu banyak jalinan cerita yang harus saya tuangkan ke kertas (lagi ogah ngetik), belum lagi hujatan-hujatan yantchan yang bilang project ini nggak bakal tamat seperti project-project saya sebelumnya. Saya sih, nggak terlalu ambil pusing, mungkin yantchan cuma gak rela bekas-bekas kertas skripsinya yang dikerjakan sepenuh jiwaraga jadi tumbal tulisan ini.

Sementara itu, yanthan sampai detik ini masih jatuh bangun melahap berbagai drama-korea. Belasan episode dihabiskan sekali jadi dalam sehari. Tengah malam mungkin yantchan baru bisa menamatkan satu drama dan kemudian bermimpi dicium Leeminho. Keesokan harinya yanti akan membeli Kaset drama korea baru yang telah diriset sebelumnya melalui youtube. Mungkin suatu saat nanti yantchan berencana memborong semua kaset sekaligus abang penjualnya supaya nggak repot. Sangkin banyaknya keping CD yang telah kami beli, Nur, salah seorang  homemate saya yang lain berencana membuat kerajinan tangan tirai pintu dari kepingan CD tersebut.  Bagi kami merupakan ide yang kejam dan tidak patut diapresiasi. 

Terkadang dari sekian banyak obrolan demi obrolan yang kami bicarakan sepanjang hari, dan ketika sudah menyinggung revisi , Yantchan langsung pura-pura pilon dan menganggap revisi adalah sejenis makanan kering. 

Setelah menulis ini semua, saya kemudian sadar tulisan ini juga menjadi salah satu postingan yang mungkin tidak jelas dan kurang bermanfaat bagi pihak manapun. oke, saya minta maaf. Mungkin sudah sebaiknya kami bertobat dan mulai menyambangi perpus lagi untuk.....r****i.

akhir januari
yatt

Selasa, 20 Januari 2015

(Not) Chajatta

Kemana lagi akan kucari? Dirimu yang nyata, bukan utopia. Bukan bayang-bayang.

Lewat setahun yang lalu niat itu begitu lekat. Begitu penuh bara. Akan kutuju satu kota dekat pantai berjarak 341 kilometer itu demi menemukan sosokmu yang bukan ilusi. Akan kusaksikan langsung bagaimana hasil metamorfosa dalam kurun sewindu ini. Meski mungkin nanti aku tak cukup berani menyapamu, apalagi menggali ingatan usangmu, Aku akan cukup mampu memaafkan diriku.

Namun sekonyong-konyong, belum usai semua kutuntaskan disini. Di Kota penuh desakan ini, bahkan belum lagi kulangkahkan kakiku. Kau pergi lagi. Meninggalkan kota hangat yang kelak ingin kutuju demi seraut wajah.

Tanpa aba-aba kau pergi lagi. Menyeberang pulau. Belantara ibukota menelanmu bulat-bulat. Dan aku bergeming. Apa yang harus kuperbuat? Kemana lagi akan kucari dirimu?

Aku tak tahu, apalagi yang bergemuruh di sini. Bukankah semuanya sudah berlalu sangat lama? Ruh apa yang merasukiku sehingga mencintaimu hingga lapisan tulang tanpa henti dan tanpa  mau peduli.

Apakah harus kumasuki juga rimba kotamu yang baru demi seraut wajah? Bagaimana kalau aku tersesat? Kutahu semua tidak mudah. Hidup dalam angan-angan membuatku seperti zombie. Dan zombie tak pernah sepadan dengan manusia kasatmata.

Kau tahu betapa sulit ini? Mencintaimu tak ubahnya membangun istana dari serpihan kapas tanpa pondasi. Membuat kepercayaan diriku utuh pun aku belum mampu, lalu bagaimana mungkin aku membangun rasa mencintai pada sesosok utopis, ada tapi tak pernah nyata.

Sedekat apapun kau kembali. Tetap kutak mampu menahanmu. Sejauh apa kau pergi, tetap tak ada yang bisa hilang di dalam sini.


Kemana lagi akan kucari. 


di Sebuah tempat saat q/time
Yatt

Sabtu, 20 Desember 2014

Resah

Banyak hal yang membuat kita resah di dunia ini. Mungkin salah satunya perihal masa depan. Kita nggak pernah bisa dengan tepat memprediksikan apa yang belum terjadi.
Kadang-kadang Tuhan senang berahasia, senang memberi kejutan terhadap apa yang kita jalani. Kadang agenda yang disusun demikian matang belum tentu sesuai planning.

Aku teringat beberapa hari yang lalu seseorang sahabat telah terjadwal hari sidang skripsinya di akhir tahun ini. Tapi mendadak karena halangan dari salah seorang dosen penguji, jadwal itu diundur sampai batas waktu yang belum kami tahu. Yang menjadi masalah adalah menjadwalkan sidang tidak semudah yang orang-orang bayangkan. Kami harus menanyakan satu persatu dosen penguji, kapan kiranya mereka mempunyai waktu luang ditengah jadwal mereka yang supe padat serta harus menemukan satu titik waktu dimana ketiga dosen penguji mempunya jadwal yang kosong secara bersamaan. Alangkah sulit.
Masih hangat diingatan, sebulan yang lalu seharian penuh aku bolak-balik menemui dosen menguji untuk mejadwal sidang skripsiku, bolak-balik menelpon untuk menanyakan kesediaan. Dan dalam kasus sahabat ini. tidak cukup hanya seharian penuh sepertiku, melainkan seminggu lebih. Dan jadwal yang sudah ada batal karena satu kata 'tidak' dari salah seorang penguji.

Kasus diatas hanyalah salah satu contoh mengapa kita sebagai manusia dengan planning yang kadang sudah tersusun tetap saja merasa resah. Karena ada sesuatu diluar kendali kita. Hal yang lebih memperparah adalah omongan-omongan dan pertanyaan yang menuntut, kapan, kapan, kapan, yang membuat jengah. Dan terkadang mereka yang doyan bertanya dan mau tahu urusan orang bukanlah oknum yang punya untung rugi resiprokal terhadap yang menjalani.

Dewasa ini, keresahan itu bermutasi dalam beragam wujud. resah, karena hidup cenderung semakin sulit karena tuntutan multidimensional dari berbagai penjuru. Kita bahkan tidak sadar bahwa kita sedemikian bertransformasi demi memenuhi tuntutan-tuntutan realistis. Kita tidak jadi diri sendiri. Kehilangan jati diri. Kebahagiaan berubah menjadi sesuatu yang bersifat utopis dan diukur dengan parameter umum yang belum tentu valid semisal materi, barangkali?

Akan tetapi, sesuatu yang belum terjadi tidak saja membuat kita resah karena hal-hal buruk yang tak terduga, tapi sesuatu yang belum terjadi juga menjanjikan  hal-hal indah. Tuhan memang penuh kejutan. Dzat yang Mahabijak menulis kisah manusia-manusia. Untuk itu kita hanya perlu percaya. Sesuatu yang baik akan datang jika memang sudah waktunya, dengan catatan abaikan saja omongan-omongan tak penting yang hanya membuat kita resah.


Fitria_tee
Buat Yantchan yang harus tetap semangat menjalani "masa-masa berdarah" ini.

Nb: Kenapa justru disaat-saat sulit, baru kita bisa ngobrol berbobot dan filosofis kayak kasus curcol di kantor pascasarjana kemaren??





Kamis, 18 Desember 2014

Rindu

Tiba-tiba aku rindu insomnia
Aku rindu malam-malam hening penuh filosofi kehidupan itu
aku rindu bercangkir-cangkir genangan kafein yang tak mengizikan mata untuk terpejam
aku rindu terbangun dengan matahari yang garang seakan ingin mendobrak jendela kamar
aku ingin terbangun saat dentang jam yang duabelas kali
mungkinkah itu yang disebut vitalitas,
ditengah kerumunan orang-orang penyembah waktu
ditengah orang-orang yang mengaku makhluk paling mulia dimuka bumi dengan intelektualitas tinggi yang bahkan sangat pelit untuk memberi ruang akan makna hidup
ditengah orang-orang yang mengaku manusia namun takut terjaga tengah malam demi eksistensi stamina jasad yang mereka tumpangi

aku rindu, aku rindu,
belakangan aku bermutasi menjadi manusia robot
ketika engsel-engsel tubuh ini digerakkan si 'invisible hand' demi seraup uang dan realitas

aku rindu, aku rindu vitalitas

Senin, 15 Desember 2014

Hujan, Sayang

Hujan Sayang, hujan
Malam dingin dan semua diam
Hanya waktu yang berlari, Tanpa mau peduli
Kita melangkah di ruas jalan yang bercabang-cabang,
Meliuk-liuk menuju satu titik yang masih misteri
Masa Lalu sudah lewat, tinggal memori abadi, jika ingatan kita masih utuh

Hujan sayang, hujan
Kau tak bisa menghitung rinainya, begitupun aku
Tapi kita tahu, suatu saat hujan akan datang teduhnya
Bukankah begitu seharusnya? menjaga nyala api pengharapan dari tetes-tetes hujan

Hujan sayang, masih hujan
Kita pegang secarik kertas takdir kita masing-masing
Ada siklus pertemuan dan perpisahan,
Kita hanya perlu mengabadikannya,  lalu menjadikannya momentum
Setelahnya, terserah Tuhan

Hujan sayang, masih hujan
Tak lebat, tak gerimis
Gelap membalut tetesnya yang stabil
Malam berusaha menutup mendung
Diam saja diruangmu, Sayang
Biar hujan yang membantu melebur rindu

Hujan sayang, Hujan
Tanah basah, tunas mungkin bertumbuh,
Aku juga di ruangku, bersama baris-baris kata yang terlanjur tumpah
Kita sama, tapi dalam dimensi berbeda

Hujan sayang, hujan
Bermainlah dengan imajimu
Kalau-kalau kau bisa tersenyum, nanti beri aku satu,
Kubingkai dan kupajang senyum itu,

Hujan sayang, hujan


fitria_tee
ditengah malam hujan

Minggu, 02 November 2014

Kumpulan Arsip Lama

I
Bisakah kebahagiaan  itu tetap disini dan tak direngkuh lagi?
Bisakah cinta itu disini dan tetap menghangati?
Mengapa semua terasa suram?
Mengapa baranya harus padam?

Hanya mampu berdebat sengit
Hanya mampu memperpanjang tangis
Hanya mampu menerima sakit dan beban

Padahal yang dibutuhkan adalah kedamaian
Yang dibutuhkan adalah perasaan ingin hidup

II
Tak ada lagi air mata saat cemooh datang
Hanya raut wajah yang mengeras menahan luka
Beserta amarah yang tak tumpah

Air mata itu sudah merembes ke hati
Tumpah ruah ke sel-sel darah

Tak ada lagi air mata
Hanya diam, diam, diam dan senyum palsu
Tak ada lagi

III
Ia memang bodoh, bodoh
Untuk apa dia Ia berekspektasi menunggu dan berbaik hati padamu?
Bukankah Kalian tak punya lagi hitung-hitungan hati? hitung-hitungan perasaan?

Berhentilah kau datang dan pergi sesukahati kepadanya
Berhentilah bersikap membingungkan
Kasihan Ia yang terus repot menata perasaanya sendiri
Kasihanilah Ia dan jiwa kerdilnya
Melihatmu dengan susah payah Ia harus menggenggam hatinya agar jangan tertinggal di sorot matamu

IV
Apa yang harus ditutupi?
Kau seseorang yang memperkenalkan apa itu hubungan
Kau kisah usang yang terlupa namun disuatu waktu kembali datang dan membuat segalanya rumit

Apa pula yang harus dituturkan?
cerita yang hanya sekejap mata dan missing link yan dilupakan

Semua singkat, bahkan selesai sebelum belajar membuka hati
Apa yang harus diungkapkan?

V
Aku tidak mencinta, tapi tetap saja kecewa
Kisah ini terlalu sederhana, jauh dari kompleksitas
Kisah ini tak tercatat dalam sejarah
Tidak penuh intrik

Menghadapimu, berarti aku harus menjadi dewasa
bertempur dengan ego dan badai-badai berkecamuk di hatiku sendiri
Kau tidak mau tahu dan peduli
Setelah badai itu susahpayah kuredakan
Kau akan datang lagi memancing badai lain

Dasar pembawa bencana!!!