Minggu, 11 Maret 2018

Tumblr dan Kenangan Kita


Berita pemblokiran Tumblr oleh Kemkominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) terkait ramainya content pornografi di laman tersebut sepertinya sedang hangat-hangatnya. Sejak mengetahui beritanya, saya langsung mengecek akun tumblr saya di smartphone, dan benar saja, akun saya tidak bisa lagi dibuka. 

Sekedar berbagi cerita, saya hanyalah pendatang baru di tumblr.  Sebelumnya saya lebih aktif di laman blogger jika ingin menulis,  mereview buku,  mereview film,  bahkan curhat.  Tumblr saya pun hanya berisi beberapa kumpulan puisi.  Namun,  pemblokiran laman ini tentu saja mengecewakan saya dan jutaan pengguna tumblr di luar sana. Rasanya sangat tidak fair,  hanya karena ulah segelintir oknum yang memuat content-content asusila di laman tersebut, para pengguna tumblr lainnya ikut terkena imbasnya dan harus kehilangan kenang-kenangan dan tulisan-tulisan mereka. 

Tumblr memang tidak sepopuler instagram,  twitter, dan facebook, serta bukan pula satu-satunya platform blogging di jagat maya ini. Namun tidak ada jaminan jika sosial media serta platform blogging lainnya yang bersih dari content asusila. 

Bagi saya pribadi, pemblokiran bukanlah satu-satunya solusi.  Terlalu dangkal rasanya jika pemberantasan pornografi dilakukan hanya dengan memblokir sebuah situs. Disisi lain, banyak sekali pengguna tumblr yang memanfaatkan laman ini sebagai media untuk menyebarkan hal-hal positif. Jumlahnya mungkin tidak sebanding dengan 360 akun bermuatan negatif yang digembar-gemborkan menjadi dalang pemblokiran itu. 

Jadi buat teman-teman pengguna tumblr, para warganet yang budiman, dan pecinta platform blogging lainnya, jika berkenan, sudilah kiranya, untuk membantu menandatangani petisi anti pemblokiran tumblr di www.change.org. link situsnya juga saya cantumkan di linimasa twitter saya @YatiFitri.  Terimakasih. 

Maret 2018
Iyat










Rabu, 28 Februari 2018

Review Film Dangal (2016) : Kisah Gulat dan Wonderwomen India yang Menginspirasi


"Mengekarkan tubuh, belum tentu jadi pandai bergulat" Mahavir Singh Phogat-

Halo Movielover,  habis nonton film apa nih? Kalau bioskop-bioskop tanah air kayaknya lagi diramein film-film bergenre romance edisi valentine. Atau kamu-kamu masih menderita demam Dilan 1990 yang hype nya nyaris nggak pernah habis? Kalo saya sudah membelot ke Negeri Hindustan dan kembali melahap film-film Bollywood. Kemaren-kemaren habis nonton 'Dangal'. Bukan film baru sih, tapi karena personally,  bagus pake banget,  akhirnya muncul keinginan untuk mereview. Yuk,  Cekidot.

Dangal merupakan film berthema olahraga gulat yang diluncurkan Aamir Khan Production bekerjasama dengan Disney akhir tahun 2016 silam. Meskipun beberapa bulan sebelumnya,  Bollywood sudah diramaikan dengan film berthema serupa (Sulthan,  yang diperankan oleh Salman Khan), namun Dangal kabarnya, tetap mampu menarik jutaan penonton berbondong-bondong menyaksikannya.

Karya Bollywood satu ini merupakan film biopik yang mengangkat kisah hidup seorang mantan pegulat india bernama Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Aamir Khan) serta perjuangannya mengantarkan kedua putrinya Geeta Kumari Phogat (Fatima Sana Shaikh) dan Babeeta Kumari Phogat (Sanya Malhotra) ke puncak kesuksesan sebagai atlet gulat wanita yang berprestasi di kancah internasional. 

Film dibuka dengan tuturan kisah hidup Mahavir muda yang mau tak mau harus meninggalkan dunia gulat dan menerima tawaran sebagai pekerja kantoran lantaran berkarir sebagai atlet gulat tidaklah menjanjikan secara finansial.  Tak hanya sampai disitu,  Mahavir juga terpaksa melupakan impiannya untuk mengharumkan nama tanah air karena selama karirnya sebagai atlet nasional ia tidak sempat menyumbangkan medali emas untuk negeri hindustan tercinta. 

Mengubur impian besar yang sudah mengakar kuat tidaklah semudah itu. Mahavir yang merasa terlambat untuk menggapai impiannya kemudian memiliki niat melungsurkan cita-cita tersebut kepada penerusnya.  Ia bertekad, apapun yang terjadi, kelak putranya harus menjadi atlet gulat seperti dirinya dan meneruskan impian masa lalunya untuk menyumbangkan emas kepada negara. 

Namun, sangat disayangkan,  meski berbagai usaha telah dilakukan oleh Mahavir untuk mendapatkan anak lelaki,(termasuk ritual-ritual tidak masuk akal yang dianjurkan warga desa), keempat anaknya terlahir perempuan. Mahavir sempat putus asa,  dan memilih kembali mengubur impiannya untuk selama-lamanya,  sampai terjadilah sebuah insiden yang melibatkan putri pertamanya, Geeta serta putri keduanya, Babeeta. Setelah insiden itu Mahavir mulai menyadari bahwa darah gulat tidak berhenti pada dirinya melainkan mengalir ditubuh kedua putrinya tersebut.  Setelah insiden tersebut,  akhirnya Mahavir membuat keputusan yang cukup kontroversial pada masa itu yaitu mulai mendidik kedua putrinya untuk menjadi pegulat profesional.

Usaha mahavir tidak semudah yang dibayangkan. Demi mendidik kedua putrinya menjadi pegulat, ia seakan-akan melawan satu dunia. Di desa kecil di daerah benama Haryana yg konservatif itu, perempuan bergulat merupakan hal yang aneh dan tabu. Namun Mahavir seperti tidak peduli,  Dengan tentangan berbagai pihak, cemoohan dari warga desa, serta keterbatasan dana,  Mahavir kekeuh pada keputusannya untuk kembali merebut impiannya yang sempat terkubur, mengantarkan kedua putrinya merengkuh medali emas untuk negara melalui gulat.  

Review :
Bagi pecinta film bollywood, tentu tidak asing lagi dengan aktor senior Aamir Khan. Nama besarnya seolah menjadi jaminan akan kualitas sebuah karya layar lebar yang sayang untuk dilewatkan. Ditambah lagi,  beberapa tahun terakhir, beberapa film jebolan rumah produksinya meraih apresiasi yang positif dari para kritikus dan penikmat film. Sebut saja Taare zameen phar (2007) yang mengharu biru itu. Kalau kamu terhanyut dan terhibur selama menyaksikan keseruan Three Idiot (2009), PK (2014), dan bagaimana menegangkannya Ghajini (2008) dan Thalaash (2012), maka Dangal adalah Salah satu karya Aamir Khan lainnya yang sangat sayang untuk dilewatkan. 

Di belasan menit pertama, Dangal sudah sangat mencuri perhatian, penonton diajak larut dalam keseharian Mahavir, Sang mantan pegulat, nun jauh di salah satu desa kecil di India sana. Meskipun telah lama meninggalkan arena gulat, namun gulat tidak pernah benar-benar hilang dari hidupnya,  sepulang bekerja biasanya ia masih sering menyaksikan pertandingan gulat jalanan di desanya atau di desa sebelah pada masa itu.  

Meskipun jalan cerita Dangal menggunakan alur maju yang sangat sederhana.  Pengisahan mengalir lancar dengan plot yang padat berisi. Di seperempat awal film,  tiap menitnya,  penonton disuguhkan aktivitas Mahavir melatih kedua putrinya, Geeta dan Babeeta dengan cara yang keras namun mengesankan. Atas didikannya lah,  Geeta dan Babeeta kelak bertranformasi dari sepasang gadis india biasa menjadi atlet gulat yang tidak hanya tangguh di arena gulat namun juga teguh pada prinsip, berprestasi dan mandiri.  Sesuatu yang agaknya langka di sebuah negara bernama India pada masa itu. 

Lantas apa kelebihan film ini dibanding film berthema olahraga lainnya? Yang saya tangkap,  Dangal, dalam penuturan kisahnya,  tak segan-segan menyelipkan sentilan sentilun bahkan sindiran terhadap realitas sosial yang senantiasa terjadi di negeri itu, semisal sistem feodal yang dianut masyarakat setempat bahkan lingkungan sosial yang sangat kental akan budaya patriarki. Meski tidak sesensitif isu sosial yang diangkat PK (2014), Dangal dengan cara tersendiri,  secara tidak langsung mengumandangkan Women Empowerment, pesan-pesan  kesetaraan gender serta mengkritisi budaya patriarki yang masih kental di negeri tersebut. Ditengah plot yang padat berisi itu pula, Dangal senantiasa mengutarakan ke publik problema dunia olahraga yang selalu diderita oleh negara-negara berkembang (termasuk indonesia,  mungkin? ) yaitu perihal rendah kesejahteraan para atlet dan masalah bebagai federasi olahraga yang telah lama disusupi budaya korupsi.  

Kelebihan Dangal lainnya adalah jajaran pemain dari departemen akting yang masing-masing menampilkan kemampuan olahperan terbaik mereka.  Meski banyak diisi oleh wajah-wajah baru. Pemain-pemain baru debut ini mampu menunjukkan kualitas acting yang patut diapresiasi. Menonton tiap scene fighting mereka di arena gulat membuat penonton yakin bahwa mereka seakan-akan atlet gulat sungguhan. Demikian pula  dengan scene-scene gulat yang ditampilkan, selalu seru, menegangkan,  dan mengikat atensi penonton. Saya yang tidak terlalu suka serta tidak tahu-menahu dengan combatsport yang satu ini pun dibuat larut dalam pertandingan demi pertandingan gulat tersebut. 

Yakinlah, durasi panjang ala film-film bollywood yang terkadang boring, tidak berlaku di film satu ini. Dangal mampu menjaga ritme film menjadi tidak membosankan dan tetap menghibur. Disamping itu, meski bercerita tentang gulat,  film ini tidak hanya bisa dinikmati oleh para pecinta gulat saja melainkan oleh seluruh lapisan penonton penyuka genre apapun. 

Akhir kata, lima bintang untuk film bollywood satu ini. Lima bintang untuk Aamir Khan yang selalu selektif memilih peran, selektif memproduseri sebuah karya layar lebar serta total dalam berakting.  Harus diakui,  Aamir Khan adalah salah satu aktor terbaik yang dimiliki industri perfilman india. Dan makin kesini, Bollywood makin cemerlang saja.  Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya,  nggak cuma produktif secara kuantitas,  tapi juga baik secara kualitas. Dangal sudah membuktikannya. Sangat inspiratif, penuh energi,  mengharubiru, serta membangkitkan semangat positif. Banyak pesan moral dan nilai-nilai kehidupan yang dapat dipetik dari karya satu ini. Sangat recommended sekali. Percayalah,  rekam jejak sang bintang, Aamir Khan yang menjanjikan itu tidak akan mengecewakanmu. 

Sekali lagi,  selamat menonton. 

Iyatt
28 februari 2018

Rabu, 07 Februari 2018

REVIEW FILM : Dilan 1990 (2018)

"Jangan rindu Milea,  Berat. Kamu tak akan kuat. Biar aku saja" -Dilan-


Sebenarnya sudah agak terlambat bagi saya untuk mengulas film yang paling ramai diperbincangkan oleh para penikmat film belakangan ini, mengingat saya menontonnya di hari perdana tayang di bioskop pada tanggal 25 januari kemarin, sembari berjubel dengan puluhan remaja usia belasan tahun dengan antusiasme luar biasa. 

Oke, mari kita ulik sedikit jalan ceritanya. Milea (Diperankan oleh Vanesha Prescilla) bernarasi tentang kisah percintaannya di kala SMA puluhan tahun silam, ketika baru pindah sekolah ke Kota Bandung. Yang kemudian menarik ialah narasi Milea selalu terpusat seputar Dilan (Diperankan oleh Iqbaal Ramadhan), seorang siswa populer di sekolah barunya yang dikenal sebagai anak geng motor yang berandal. Dilan yang terkenal urakan, melalui tingkahnya yang nyeleneh dan susah ditebak, serta kelakuannya yang sok puitis bak pujangga berhasil membuat Milea jatuh hati meski pada saat itu,  ia sudah mempunyai kekasih di jakarta bernama Benny (Brandon Salim). Permasalahan lain muncul,  Dilan yang populer ternyata punya banyak saingan, Nandan sang ketua kelas dan Kang Adi,  guru les privat Milea ternyata juga menyukai Milea. 

Meledaknya novel Dilan 1990 di pasaran, tampaknya membuat sang penulis, Pidi Baiq bersemangat untuk mengangkat kisah ini ke media visual alias layar lebar dengan ikut bantu-bantu di kursi penyutradaraan. Tak puas sampai disitu,  sang penulis juga turut campur dalam penulisan naskah dan pemilihan karakter utama. Dipilihnya Iqbaal dan Vannesha yang terbilang masih baru di dunia perfilman tentu menimbulkan pro dan kontra para pecinta novel Dilan. Seperti yang kita ketahui,  mengadaptasi sebuah novel best seller bagaikan dua sisi mata uang. Disatu sisi, harapan pembaca untuk menyaksikan tokoh rekaan dalam novel menjadi sosok nyata dalam film terwujud,  namun disisi lain, tidak semua pembaca dapat dipuaskan karena imajinasi pembaca tentang tokoh dan cerita tentu akan berbeda dengan apa yang diejawantahkan oleh para moviemaker.

Sedari memasuki gedung bioskop hingga ketika film akan diputar,  saya tidak memasang ekspektasi yang tinggi akan karya layar lebar satu ini mengingat trailernya yang terkesan biasa serta pengalaman terlalu seringnya saya dikecewakan film adaptasi. Namun seiring diputarnya film hingga kredit title muncul,  Dilan 1990, sebagai sebuah karya adaptasi lumayan juga, meskipun tidak seBombastis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck atau seOke Assalamualikum Beijing (bagi saya,  personally, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck masih merupakan karya adaptasi terbaik sampai saat ini). Dilan 1990, cukup berhasil menyajikan kisah cinta SMA yang sweet and classy. 

Kelemahan Dilan 1990, terletak pada jalan cerita yang datar dan konflik yang biasa saja. Pidi Baik, boleh saja setia kepada materi aslinya di novel,  namun tidak plek ketiplek copi paste apa yang ada di novel. Konflik cerita seputar pertengkaran Milea dengan Benny,  pertikaian Dilan dan Anhar yang terasa ideal di novel ketika di tranformasikan kedalam penceritaan film terkesan datar dan biasa saja. Perlu diketahui bahwa ketika novel diangkat menjadi sebuah filml layar lebar dengan media yang berbeda,  maka ia sudah merupakan karya yang berbeda pula. Penikmatnya pun kemudian ikut berubah, karena pada dasarnya tidak semua penonton sudah membaca karya cetaknya. Jadi,  pembuat film tentu sah-sah saja mengembangkan cerita dan konflik yang ada di novel.  Kelemahan lainnya ialah sinematografi yang kurang rapi dan nggak maksimal. Adegan bunda Dilan nyetir mobil ditemani Milea adalah yang paling fatal menurut saya. 

Beruntungnya,  jalan cerita Dilan 1990,  yang terasa kurang greget dan dialog demi dialog antara Dilan dan Milea -yang ketika ditransformasikan dalam media gambar menjadi  over cheesy- sepanjang durasi film terselamatkan oleh jajaran cast dari departemen akting. Iqbaal yang sejak awal diragukan kemampuan olahperannya kenyataannya mampu menunjukan kualitas berlakon yang prima.  Lihat saja ekspresi wajah, sorot mata, serta tingkahnya yang usil, penonton akan percaya bahwa ia memang Dilan yang sesungguhnya.  Meski Iqbaal belum bisa seratus persen menghilangkan image boybandnya, -dan tentu saja kurang bertampang badboy- namun kemudian mampu membuktikan bahwa ia bukanlah pilihan yang sepenuhnya salah.  Disamping itu,  Vannesha yang notabene baru debut film,  juga mampu mengimbangi akting iqbaal dan membangun chemistry yang cukup baik. 

Meski tidak meninggalkan kesan yang mendalam,  Dilan 1990, cukup acceptable untuk dinikmati. Bisa dipastikan strategi promosi Dilan 1990 yang sangat gencar berimpact pada lahirnya pasangan remaja baru bernama Dilan-Milea meskipun tidak akan sefenomenal rangga-cinta. Tak pelak, akhir-akhir ini jagad sosmed diramaikan dengan cuitan dan quotes receh ala-ala Dilan.

Anyway,  Film ini cukup recomended untuk dinikmati penonton teenager agar mengetahui bagaimana klasiknya percintaan remaja generasi 90an. Penikmat film yang termasuk dalam golongan 25++ juga tidak ada salahnya menonton,  Dilan dkk akan mengajakmu bernostalgia kembali dengan kisah cinta masa SMA. 

Cukup tiga bintang untuk Dilan-Milea. Jangan banyak banyak. Nanti berat.  Kalian nggak akan kuat. 

Happy Watching

Iyatt
8 februari 2018








Jumat, 29 September 2017

FIKSI : Demi Cinta yang Baik

Aku melihatmu lagi setelah sedasawarsa lamanya. Bertemu dan bertatap muka berarti melucuti kenangan lama.

Gurat wajahmu melukiskan bahagia. Bahagia yang berbeda. Menurut hematku, saat terbahagia dalam hidupmu adalah waktu yang kita habiskan bersama. Aku keliru. Hanya aku saja ternyata yang membukukan fase hubungan utopia kita dulu. Kau tidak.

"Aku akan segera menikah" katamu. Aku tersenyum. Bukan kabar yang mengejutkan. Aku tahu cepat lambat semestamu akan mengenal istilah baru. Pernikahan.Yang berbeda adalah dulu kau selalu meledek mereka, orang-orang kebanyakan yg begitu memuja pernikahan.

Perubahan itu suatu yang pasti, namun kau tidak berubah. Kau terlahir baru. Kau bereinkarnasi. Seolah tanpa ingatan akan kita.

"Cinta yang baik harus berani hijrah" katamu dulu. Aku baru tahu cinta punya ukuran dan skala soal baik buruk. Sejak dulu kau memang si pemikir. Tapi dulu kau tidak pernah berfilosofi perihal cinta. Bagimu cinta terlalu utopis.  Yang nyata adalah keterikatan antara kita melewati hari demi hari.

"Cinta yang baik, yang menuntunmu pada kebaikan, bukan kesenangan semata". Tambahmu lagi. Kalimat yang jelas-jelas menunjukkan keputusanmu untuk pergi. 

Setelahnya, kau memilih menyambut uluran tangan baru. Melangkah dan meninggalkanku di persimpangan seolah kita berbeda tujuan. Tanpa bertanya benarkah kita berbeda tujuan?

Hari-hari setelah itu hanyalah aku beserta ribuan tanya yang terperangkap dan tak punya cara untuk lolos dari pikiranku. Tidak bisakah 'cinta yang baik' itu saling menuntun, saling merangkul dan hijrah bersamaan?
Mungkin kalau begitu, lain lagi akhir ceritanya.

"Kau juga harus menikah" katamu dengan senyum penuh ketulusan. Senyum yang sama. Senyum yang masih punya daya meluberkan rindu yang tak ubahnya bongkahan es kutub. 

Aku juga dulu menginginkannya. Pernikahan. Lantas bersabar sambil berharap akan ada momen ajaib yang membuatmu berubah pikiran dan mulai memercayai ikatan sejenis itu. Momen ajaib itu memang kemudian tiba, namun dengan alur yang berbeda. Jadi saat ini, terasa agak sulit bagiku untuk kembali menginginkannya,  apalagi setelah uluran tanganku dilepaskan.

Entah sejak kapan kau tak lagi si bebas yang sama. Aku akan mencoba berbahagia, untuk seseorang yang akan berstatus 'suami'.  Demi cinta yang baik itu. 

Malang,  September 2017

Selasa, 19 September 2017

Review Film : Thread of Lies (2013)


Sungguh,  dari hati yang paling dalam saya nggak punya niat untuk mentranformasi blog ini jadi blog ulasan film korea. Hanya saja pikiran yang semrawut dan kerjaan yg bikin jenuh lagi-lagi membawa saya pada pelarian yang bernama: film korea. Kenapa korea? Jangan tanya, karena saya juga nggak tahu. Mungkin karena belakangan saya suka nangkringin berita hallyu,  atau mungkin karena lamaran-lollipop-virtual ala Lee Jong Hyun CNBLUE?, entahlah.. Terlalu banyak kemungkinan. Mungkin pastinya hanya Tuhan beserta staff-staffnya yang tahu jawabannya. 

Sangat banyak 'pelarian' yang saya nonton belakangan ini, tapi 'pelarian' yang kemudian membekas di hati, selalu membuat saya gatal ingin mereview serta merekomendasikannya kepada siapa saja yang minat nonton.  

Objek ulasan kali ini, baru saya nonton colongan di sela-sela kerjaan tadi siang. Thread of Lies. Bukan film baru, namun thema penceritaan yang diusung masih terasa sangat relevan sampai saat ini. Tidak lain tidak bukan masalah perundungan alias bullying di lingkungan sekolah. Terasa akrab 'kan? 

Belakangan, kita sering menyaksikan begitu banyak unggahan tindakan perundungan/bully yang terjadi di kalangan remaja terutama pelajar yang kemudian viral di media sosial. Selalu, setelah berita-berita demikin viral, barulah pihak sekolah mengambil tindakan. Diluar berita perundungan yang kemudian viral tersebut, pasti masih sangat banyak kasus perundungan sejenis di seluruh penjuru tanah air yang tidak terekspose atau terendus media. 

Dunia pendidikan Korea Selatan, juga tak luput oleh kasus-kasus semacam ini.  Potret kelam inilah yg kemudian diangkat kedalam sebuah sajian layar lebar berjudul Thread of Lies. 

Thread of Lies mengisahkan kehidupan seorang janda bernama Hyun Suk bersama kedua anaknya Man Ji dan Chon Ji yang berstatus pelajar. Keseharian mereka terlihat biasa saja seperti keluarga pada umumnya sampai kemudian mereka mendapati si bungsu Chon Ji tewas gantung diri di kamarnya. Hal ini tentu membuat Ibu dan sang kakak terkejut, Bagaimana mungkin Chon Ji bisa bunuh diri mengingat Ia adalah pribadi yang lumayan periang, dan tidak terlihat sedang ada masalah pada keluarga ataupun dengan teman-temannya. 

Setelah kematian Chon Ji, Hyun Suk dan Man Ji, memilih pindah ke apartemen yg lebih sederhana. Di apartemen tersebut, Man Ji tidak sengaja bertemu dengan Hwa Yeon,  -teman sekelas Chon Ji- yang kebetulan tinggal di apartemen yang sama. Keresahan Man Ji muncul setelah melihat gelagat aneh Hwa Yeon saat pertemuan dan perbincangan mereka. Hal ini kemudian mendorongnya untuk melakukan penyelidikan tentang misteri dibalik kematian adiknya. 

Disinilah konflik film kemudian mulai bergulir. Dengan alur penceritaan flashback, satu demi satu bukti penyebab bunuh diri Chon Ji terkuak. Bullying -baik langsung maupun tersirat- yang dilakukan teman sekelasnya menjadi faktor utama Chon Ji mengakhiri hidup. Hwa Yeon, yang terkenal baik hati dan cukup dekat dengan Chon Ji pun, ternyata tak luput dari tindak perundungan, sikapnya pada Chon Ji juga berkontribusi banyak atas keputusan bunuh diri gadis itu.  

Penceritaan semakin menarik ketika Man Ji menemukan surat wasiat Chon Ji dalam sebuah gulungan benang woll yang biasa dipakai adiknya untuk merajut. Dalam surat tersebut, Chon Ji juga menuliskan bahwa ada lima wasiat yang ia sebar kepada orang-orang tertentu. Hal ini lah yang kemudian membuat Man Ji semakin bernafsu mengulik misteri penyebab bunuh diri adiknya. 

Tontonan dengan pengisahan serius seputar bullying, depresi, dan bunuh diri biasanya akan sangat mudah memancing emosi dan airmata penonton. Tetapi Thread of Lies terasa agak berbeda, disajikan apa adanya tanpa dramatisasi berlebihan. Bagi saya, Thread of Lies adalah sajian melodrama dengan porsi yang pas. Menontonnya, mau tak mau mengajak kita berempati dengan keadaan Chon Ji, yang senantiasa berusaha meredam duka dan kesepiannya sendirian selama menjadi bulan-bulanan di sekolah. Menontonnya,  juga membuat kita bersedih dan merasakan penyesalan yang sama seperti yang dirasakan Hyun Suk Sang ibu dan Man Ji,  Si kakak, sebagai orang terdekat yang terlambat sadar.

Lagi-lagi Sineas Korea Selatan berhasil membuat karya sederhana namun sarat akan pesan moral. Thread of Lies mengirimkan pesan kepada penonton (juga kita, makhluk berakal dan memiliki hati) agar lebih peka dengan isu sensitif ini.  Tontonan ini juga mengajak agar kita lebih peduli akan keluarga dan orang-orang sekitar. Tidak semua anak mampu melawan perundungan yang dialami. Tiap anak pasti memiliki reaksi yang berbeda-beda ketika mengalami bullying. Ada yang mampu menyikapi dengan bijak dan mengalihkan pada hal-hal positif. Namun sebaliknya, bagaimana dengan mereka yg tak mampu menanggung beban perlakuan bully? Efek samping seperti depresi dan yang lebih parah semisal bunuh diri bisa saja tidak terelakkan.

Kesibukan beraktivitas, dan kurangnya waktu luang untuk saling bertukar cerita dengan keluarga, teman, dan orang terdekat secara tidak langsung membuat korban perundungan kehilangan tempat untuk berbagi, curhat, bahkan mencari solusi. Untuk itulah, sesulit atau selangka apapun, ada baiknya kita meluangkan sedikit waktu untuk sharing dan berkumpul bersama keluarga dan orang terdekat.

Sampai saat ini pun tindakan perundungan itu masih eksis terutama di kalangan remaja. Mungkin saja tanpa kita sadari, kita adalah bagian dalam perundungan tersebut,  entah sebagai korban, saksi, bahkan pelaku. Akhir kata cuma pengen bilang, bullying itu sama sekali nggak keren dan bisa berakibat fatal sekali. Disini, Thread of Lies mengingatkan kita agar jangan sampai ada lagi 'Chon Ji'- 'Chon Ji' yang lain di dunia nyata.

Selamat menonton dan selamat memetik pelajaran. 

Iyat
September 2017
 

Sabtu, 02 September 2017

MOVIE REVIEW : Miracle in Cell No.7 (2013)


Sesuatu se-Mahaluas cinta terkadang tak memiliki batasan. Apalagi ikatan cinta orangtua dan anak. Bahkan seseorang seperti Young Gu,  yang mengalami keterbelakangan mental sekalipun secara sempurna mampu memanifestasikan bagaimana cinta itu tidak terbatas kepada Ye Sung, putri sematawayangnya. 

Selama kamu masih memiliki hati dan ikatan yang erat dengan keluargamu, maka tidak ada alasan untuk tidak menangis atau -paling tidak tersentuh- saat menyaksikan film ini.  Miracle in cell number seven benar-benar sebuah tontonan menyayat hati. 

Di awal film, kita diajak mengilasbalik kehidupan Ye sung kecil (diperankan oleh Aktris cilik Kal So won) di tahun 1997. Tampak Young Gu (Ryu Seung Ryong) dan Ye Sung kecil dengan riang gembira menarikan tarian animasi sailormoon di emperan sebuah toko. Dibalik etalase toko tersebut, terpajanglah sebuah tas cantik bergambar sailormoon yang begitu diidamkan Ye Sung. Betapa tidak sabarnya sepasang ayah-anak ini menunggu esok tiba,  (hari gajian sang ayah,  Young Gu) karena mereka berencana membeli tas itu esok hari.  Namun rencana hanya tinggal rencana. Sesaat setelah itu,  sepasang suami istri beserta anak mereka memasuki toko, dan mencuri start membeli tas sailormoon itu.  Young Gu dan Ye Sung yg menyaksikan hal itu tentu tak tinggal diam.  Mereka merangsek kedalam toko dan Ye Sung mulai berteriak panik, menjelaskan bahwa tas itu adalah haknya.  Ia akan membelinya esok hari ketika sang ayah menerima gaji. Young Gu, pun mengamini ucapan putrinya tersebut.  Namun, karena dianggap membuat keributan,  penjaga toko kemudian mengusir mereka.  

Keesokan harinya, usai menerima gaji hasil bekerja sebagai petugas parkir di sebuah pusat perbelanjaan, Young Gu yang terlihat sedang menghitung lembaran gajinya, dihampiri oleh anak sepasang suami istri yang membeli tas Sailormoon kemarin.

"Ahjussi,  aku tahu dimana lagi toko yg menjual tas seperti ini" ucapnya. 

Satu kalimat yg memutuskan Young Gu untuk kemudian mengikuti gadis kecil itu menunjukkan arah toko yang dimaksud. Namun sayangnya, cuaca bersalju dan bongkahan es licin dimana-mana membuat gadis kecil itu tergelincir dan kepalanya terbentur. Young Gu, yang kemudian berusaha menyelamatkan malah disangka seorang saksi mata sedang melakukan pelecehan seksual kepada anak dibawah umur. Karena kecelakaan tersebut menyebabkan gadis kecil itu tewas seketika, maka berdasarkan kesaksian saksi mata ditetapkanlah Young Gu sebagai tersangka kemudian digiring ke balik jeruji besi. Maka terpisahlah sepasang ayah anak ini hingga Ye Sung kecil yang sebatangkara pun akhirnya dititipkan ke sebuah panti asuhan. 

Di bui, Young Gu dijebloskan ke dalam sel bernomor tujuh, bersama beberapa tahanan lainnya. Awalnya, karena kasus yang didakwanya, para penghuni sel nomor tujuh tersebut turut menyiksanya, sampai akhirnya mereka sadar bahwa dengan keterbelakangan mental yang diderita Young Gu, ditambah kepribadiannya yang lugu dan baik, seseorang seperti Young Gu tidak mungkin melakukan kejahatan semacam itu. Karena salah seorang napi dalam sel Young Gu sangat ahli menyelundupkan barang dari luar ke dalam tahanan mereka, Young Gu pun menceritakan kepada teman-teman satu selnya, bahwa ia sangat ingin bertemu Ye Sung putrinya. Teman-teman satu sel Young Gu,  yang bersimpati kepadanya,  berusaha melakukan berbagai macam cara untuk menyelundupkan Ye Sung ke dalam sel mereka. Usaha penyelundupan Ye Sung kedalam sel nomor tujuh berhasil. Akhirnya Young Gu dapat kembali melihat putri kesayangannya, Ye Sung.  Ye Sung sendiri dengan sikap kanak-kanaknya mau tidak mau membawa keceriaan tersendiri kedalam sel tersebut. Meski drama penyelundupan ini sempat ketahuan oleh kepala sipir penjara, namun sebuah insiden kebakaran yang terjadi di tahanan mereka -dimana Young Gu menyelamatkan si kepala sipir yang terjebak dalam ruangan penuh kobaran api-,   akhirnya membuat kepala sipir itu luluh atas kebaikan Young Gu,  dan memutuskan untuk kembali menyelundupkan Ye Sung ke dalam tahanan meski harus mempertaruhkan pekerjaannya jika suatu saat hal tersebut ketahuan. 

Hari-hari berlalu, persidangan Young Gu semakin dekat. Seluruh penghuni sel sudah mengajari Young Gu bagaimana menjawab pertanyaan demi pertanyaan sidang agar terbebas dari dakwaan palsu yang dituduhkan padanya. Namun sungguh sial memang nasib Young Gu, gadis kecil yang tewas tersebut ternyata merupakan putri komisaris polisi. Sesaat sebelum persidangan Young Gu diancam oleh sang komisaris polisi tersebut, agar mengiyakan apa yang telah didakwakan kepadanya,  kalau tidak, Ye Sung akan dibunuh.  Young Gu, yang amat sangat mengasihi putrinya itu akhirnya mengakui tuduhan palsu tersebut sehingga akhirnya ia dituntut hukuman mati. Cerita tidak hanya berakhir sampai disitu, jika kamu penasaran dan tertarik untuk menangisi kisah sepasang ayah anak ini, maka silahkan menontonnya langsung. 

Sebelumnya saya mau minta maaf karena tanpa sadar sudah menulis sinopsis sedemikian panjang dengan spoiler yang bertebaran.  Tapi yakinlah,  sinopsis berspoiler diatas tidak akan mengurangi kadar keistimewaan miracle in cell number seven sebagai sebuah sajian mahamenyedihkan (kalian boleh bilang saya lebay). Saya sudah menontonnya dua kali, dan dikalikedua saya tetap tersentuh dan bersedih atas kisah mereka.

Ada apa dengan sineas perfilman korea selatan? Kenapa mereka benar-benar terobsesi membuat penonton menitikkan airmata? Mereka benar-benar sekumpulan orang tak berperasaan yang mampu menciptakan film-film penguras airmata karena sepanjang durasi dengan tega menyiksa para tokoh utama. Setelah Taegukgi yang fenomenal itu, maka Miracle in cell number seven adalah tontonan tearjerker yang amat sangat powerfull, sehingga sukses membuat penontonnya gloomy seharian (lebay mode on, lagi).

Kamu tidak perlu memutar otak -seperti saat menonton film thriller, suspence, dan sejenisnya- saat menonton film ini. Plot penceritaan film ini sangat sederhana dan mengalir. Hanya ikuti saja alurnya,  maka Ye Sung, Young Gu,  serta sekumpulan penghuni sel nomor tujuh akan membawamu menikmati lika liku kehidupan dalam tahanan. Cukup komikal di paruh pertama, namun mengharubiru di akhir cerita. Jangan lupa sediakan sekotak tissue, jika kamu termasuk kedalam jenis orang-orang berhati nutrijell yang mudah berempati terhadap kisah kisah keluarga. 

Lalu, apa kelebihan film ini? kamu bisa menyaksikan sendiri melalui jajaran para aktor yang masing-masing memberikan acting terbaiknya. Ryu Seung Ryong Berhasil membuat kita berempati pada keluguan dan kenaifan serta cintanya yang tanpa excuse meskipun ia seorang dengan keterbelakangan mental. Disisi lain, Kal So Won yang masih sangat belia juga mampu membius kita dengan scene-scene penuh airmata. Dari sisi komedi, diisi oleh ahjussi-ahjussi penghuni sel nomor tujuh dengan tingkah absurd dan kekonyolan luarbiasa juga sukses mengundang gelak tawa. Siapa sangka kalau napi-napi dalam tahanan bisa selucu dan sekonyol mereka. Adegan yang paling sulit dilupakan mungkin adegan saat Young Gu dan Ye Sung berpisah sebelum Young Gu dieksekusi mati. Ia berbalik dan memeluk Ye Sung sambil meneriakkan maaf berkali-kali. This scene, oh my God, really ultra sad. 

Buat kamu-kamu pecinta mellowdrama, yang mulai jenuh dengan drama-drama percintaan picisan, dan rindu akan tontonan bagus mengharu biru berthema keluarga,  miracle in cell number seven benar-benar recomended sekali. Selamat menonton,  dan selamat tersentuh. 

Malang, 03.09.17

Kamis, 24 Agustus 2017

Movie Review : Drishyam (2015)


Setelah sekian lama tidak mencicipi karya layar lebar asal negeri hindustan, kemarin, akhirnya saya menonton satu lagi karya sineas bollywood berjudul 'Drishyam'.  Dan hasilnya, wow, agak diluar ekspektasi. Dalam artian positif tentunya. 

Diluar thema film india pada umumnya yang seringkali mengangkat kisah cinta picisan dibumbui belasan lagu mendayu-dayu, dan serangkaian tarian yang india banget, Drishyam rupanya mengambil jalan agak berbeda dengan menghadirkan drama keluarga yang lumayan kental unsur trillernya. 

Film ini mengisahkan tentang perjuangan seorang ayah bernama Vijay (Ajay Devgan) dalam melindungi keluarga kecilnya dari rentetan teror kepolisian karena terlibat sebuah kasus yang secara tidak sengaja menimpa keluarganya. Sederhana bukan? namun tidak demikian dengan jalinan penceritaannya.

Film dibuka dengan gambaran kehidupan sehari-hari Vijay,  seorang pengusaha TV kabel kelas menengah bersama istri dan dua putrinya yang aman dan tentram, sampai suatu ketika sebuah kasus menimpa keluarga kecilnya. Kasus tersebut, mau tidak mau membuat Vijay dan keluarga harus berurusan dengan pihak kepolisian.  Berbekal pengetahuan akibat terlalu getol menonton film,  Vijay dengan kecerdikannya berhasil membuat jajaran kepolisian mati kutu atas tuntutan demi tuntutan yang ditujukan kepada keluarganya. Hingga di penghujung film pun,  polisi masih saja dibuat geram oleh kelihaian Vijay. Rasanya agak sulit merangkum atau bahkan memberi spoiler buat film ini, jadi keputusan paling bijak menurut saya adalah alangkah lebih baik jika para reader yang budiman menontonnya langsung.

Pengalaman menonton film-film india bagi saya,  biasanya cenderung biasa-biasa saja. Setelah menyaksikan 'Kahaani' yang cukup menegangkan,  serta 'PK' yang bombastis itu, rasa-rasanya saya tidak pernah menemukan diri saya terpukau lagi dengan tontonan bollywood setelahnya.  Namun,  Drishyam, setidaknya memenuhi ekspekstasi saya dalam level film bollywood. Ide cerita yang excellent, tuturan kisah yang rapi sepanjang durasi,  ditambah lakon apik Ajay Devgan dan Tabu -khususnya- dari departement aktingnya membuat saya mau tidak mau mengacungkan dua jempol untuk film satu ini. Bahkan, durasi panjang dan lama ala film india sekalipun, tidak membuat saya bosan akan suguhan satu ini. 

Setelah dominasi korea selatan, perlahan-lahan sineas perfilman bollywood mulai bangkit dan unjuk gigi di kancah industri perfilman asia.  Bollywood,  seakan akan ingin menunjukkan bahwa mereka tidak hanya produktif secara kuantitas namun juga mampu melahirkan karya-karya yang baik secara kualitas. Diluar barisan melodrama picisan yang saya sebut sebelumnya,  PK,  My Name Is Khan,  Kahaani,  Slumdog Millionare,  menjadi bukti nyata kalau pekerja film bollywood cukup serius dalam menggarap produksi film layar lebar.  Slumdog millionare bahkan sudah melenggang dan mengantongi beberapa award dari ajang sekaliber oscar. 

Akhirnya kata,  Apalah arti sebuah film, tanpa pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Begitu pula halnya dengan Drishyam. Film ini mengajarkan bahwa, bagaimanapun,  terlepas dari benar atau salah sesuatu yang dilakukan seorang anak, orangtua tanpa pretensi apapun,  akan tetap selalu mencintai dan melindungi anak-anaknya semampu mereka,  seperti apa yang dilakukan Vijay terhadap keluarga kecilnya. Empat dari lima bintang untuk film ini.

Anyway,  kalau kalau kamu, penyuka genre triller,  dan nggak antipati sama karya-karya bollywood,  bolehlah menjajal film ini sebagai tontonan akhir pekan. 
Happy weekend and happy watching everyone. 

Fitriaty Koto